05 Maret 2017

Rejeki, kata yang satu ini memang seru kalau diperbincangkan dan menjadi sebuah kata yang selalu dipikirkan setiap orang, sebuah kata yang selalu dicari oleh setiap orang bahkan selalu masuk dalam setiap doa-doa kita, benar kan? Ada orang yang mudah rejekinya, ada juga yang terkesan susah, apa yang membedakan dari orang-orang ini, apakah ketentuan Tuhan yang membuat rejekinya berbeda?Hmm, padahal Tuhan itu Maha Pemberi Rejeki kan. Lalu kenapa Tuhan tidak memberi rejekinya? Kalau saya melihatnya adalah, banyak orang yang sudah menakar sendiri rejekinya, banyak orang sudah membatasi sendiri takaran rejekinya. Takaran itu melalui sugesti yang masuk ke dalam PIKIRAN setiap orang.

Tadi sore ketika waktu berbuka puasa di hotel Majapahit,Surabaya, janjian dengan seorang teman waktu masih di kantor X tempat kerja saya dulu. Dia bercerita bahwa sekarang masih bekerja di kantor X, memang gajinya sudah lebih baik tetapi bingung juga karena pengeluarkan juga membesar, lalu teman saya ini sambil menikmati sajian buka puasa bertanya, “gimana sih biar rejeki saya besar fir seperti kamu sekarang, jadi melesat seperti ini, saya sudah kerja keras banting tulang tapi tetap aja saja habis untuk kebutuhan sehari-hari, buat jajan seperti sekarang saja kamu yang bayari”. Sambil tersenyum saya menjawab saja “apa niatmu kerja setiap hari”, teman saya ini menjawab “ya saya kerja untuk buat dapur ngebul dan sesuap nasi, yang penting barokah fir meskipun sedikit juga”. Nah dari apa yang dijawab teman saya ini, saya mengetahui bahwa sugesti itu yang membentuk takaran rejekinya.

“makanya kalau niat kerja itu jangan sesuap nasi, ganti jadi sebongkah berlian, juga yang barokah itu yang banyak lho” sambil tersenyum saya menjelaskan. Lalu sambil makan saya jelaskan sedikit tentang materi AMC kedia, tentang program pikiran, tentang rumus doa, teman saya manggut-manggut lalu bilang “bener juga kamu fir, tergantung saya ya”. Sama juga ketika sabtu kemarin saya ada kelas reguler Alpha Mind Control (AMC), ada seorang peserta yang memang niatnya pengen rejeki lebih baik, ingin penghasilan yang lebih baik. Mulutnya bicara seperti itu, tetapi setelah saya suruh isi quiz bakat kaya eh ternyata peserta ini memiliki sugesti yang takut terhadap uang, takut jadi kaya.


Mungkin anda tidak percaya kalau ada orang yang takut terhadap uang, takut jadi kaya. Kalau anda mempelajari AMC, maka anda pasti menyadari hal ini juga, banyak sugesti yang tersebar dimasyarakat yang justru memiskinkan, bahkan sugesti-sugesti yang terlihat bagus belum tentu membuat kaya. Daripada menyimpan sugesti, kerja demi sesuap nasi, bukankah lebih enak kerja demi sebongkah berlian, hehe, ngutip lagunya wali.

Sugesti masuk ke pikiran kita sebenarnya atas ijin kita sendiri, karena itu kita wajib memilih dan memilah sugesti mana yang nyaman, sugesti mana yang mengkayakan, sugesti mana yang membuat sukses. Ya, karena memang pikiran kita sepenuhnya adalah milik kita, jadi kenalilah pikiranmu, agar bisa mengontrolnya lalu memaksimalkan fungsinya. Hati-hati ya dengan sugestimu, karena sugestimu yang menentukan takaran rejekimu, dan Tuhan pasti memberikan dirimu rejeki sesuai dengan takaranmu. Kalau ingin mengubah kualitas rejekimu maka mulailah dengan mengubah Pikiranmu. Hidupmu dan rejekimu tergantung dengan sugesti-sugesti yang ada dalam PIKIRANmu.

Sugesti itu memiliki kekuatan yang netral, bisa memperkecil rejeki seseorang atau bisa memperbesar rejeki seseorang.




Sumber : www.kekuatansugesti.com





Berperahu mengarungi sungai berarus deras. Bunyi gemuruh riak air mengiri dari awal hingga akhir. Menaiki lidah-lidah air, tubuh kadang kala akan terombang-ambing sambil harus terus mendayung. “Dayung maju!” teriak skipper sesaat perahu akan masuk jeram, lalu disusul “Potong-potong!….dayung kuat!” ketika bagian depan perahu terangkat keatas tepat ditengah jeram, semua mendayung dengan sekuat tenaga. Di akhir jeram, harus menghindara belokan sungai, “Kiri mundur….dayung maju!!!” teriak skipper ketika melihat arus eddies di depan kirinya. Perahu memasuki eddies lalu berputar-putar mengikuti arus, semua menarik napas lega. Sesaat kemudian skipper berkata “ dayung maju Kuat…!!!” 
Dalam olah raga arus deras 

ataupun arung jeram, kondisi seperti diatas akan sangat mudah kita temui. Kadangkala kondisi yang tidak kita inginkan bisa terjadi, misal salah seorang awak perahu terlempar keluar dari perahunya saat menghadapi jeram ataupun saat menghadapi kondisi perahu trapp saat menerjang batu besar yang membelah arus air yang deras dan ataupun ketika akhirnya semua awak terlempar keluar dan perahu terbalik ketika melewati hole yang kuat. 
Demikian ORAD termasuk salah satu Kegiatan Alam Terbuka (KAT) yang memiliki resiko tinggi. Resiko tersebut dapat dikurangi bila sebelum pengarungan dilakukan persiapan yang baik. Persiapan yang baik adalah belajar dan belatih dengan baik, secara teknis, ketrampilan, maupun pengetahuan dan perlengkapan. 

I . Sejarah Arung Jeram 
Sejak dahulu manusia telah mengenal air baik untuk kebutuhannya untuk memuaskan dahaga maupun hal lainya.
Secara naluri manusia lebih banyak pada daerah dekat dengan sumber air misalnya sungai, entah sejak kapan dimulainya manusia mengarungi tepat tersebut. Pengarungan tersebut dahulu menggunakan alat yang masih sederhana yaitu mulai dari batang pohon yang diikat jadi media pengapung ataupun batang pohon yang dilubangi bagian tengahnya untuk tempat duduk (perahu sederhana). Kegiatan pengarungandengan media pengapung inipun terus berubahsesuai dengan kebutuhan, kemajuan jaman dan teknologi. 
Pada abad 19 untuk pertama kalinya John Mc Gregor yang merupakan seorang pramuka mengembangkan kendaraan air untuk rekreasi ataupun untuk olah raga, seturut teknologi, penggunaan perahu karet pun semakin banyak dan berkualitas. Pada tahun 1983 perahu buatan Jim cassidy dengan ‘self bailer”-nya berhasil menarik perhatian orang banyak sehingga populer sampai sekarang. Kesuksesan ini karena perahu buatannya memiliki lantai yang bisa diisi udara sehingga mempunyai daya apung yang lebih baik dan mampu mengeluarkan air sendiri dengan hanya memberikan penambahan lubang air dibagian tepi perahu. 
Seperti hal di dunia, pengarungan sungai dan laut juga telah dilakukan oleh nenek moyang kita berabad-abad yang lalu contohnya oleh suku-suku dayak di Kalimantan (Borneo) yang mengarungi sungai Kapuas ataupun sungai Mahakam dengan menggunakan perahu badiknya dan suku-suku pedalaman Irian (Papua) yang mengarungi sungai Memberamo yang terkenal dengan sebagai sungai sempit dan banyak jeram. 
Secara umum, tidak diketahui secara pasti sejak kapan pengarungan sungai berarus deras menggunakan perahu karet dilakukan di Indonesia namun secara pasti tercatat dalam sejarah adalah pada tanggal 17 april 1975 dimana diselenggarakan sebuah kompetisi Citarum Rally I di sungai Citarum Jawa Barat oleh Wanadri Bandung. 
Ekspedisi pengarungan sungai internasional pertama kali dilakukan oleh klub Aranyacala Trisakti yang mengarungi sungai-sungai di negara bagian California, Oregon dan Idaho, amerika serikat pada tahun 1992. Ekspedisi tersebut lalu dilanjuti oleh tim wanita dari klub yang sama pada tahun 1994 dengan mengarungi Zambesi, Zimbabe. 

II. Karakteristik Sungai 

A. Jeram / Riam 
Jeram (rapid) adalah bagian dari sungai dimana aliran air mengalir dengan deras yang melintasi suatu rintangan. Jeram juga biasanya diartikan dengan air yang cepat dan berbahaya.
Jeram terbentuk karena beberapa faktor : 
• Volume air 
• Tingkat kecuraman / kemiringan sungai (Gradien) 
• Tonjolan dasar sungai ( Roughness) 
• Rintangan (Obstacles) 
• Penyempitan leher penampang sungai, makin sempit makin deras arusnya. 

B. Rintangan-Rintangan Sungai 
Rintangan bermacam-macam bentuknya, seperti batu, dinding sungai, bongkahan, relief dasar sungai, tikungan dan masih banyak lainnya seperti dibawah ini : 
- Longsoran / runtuhan, berupa pecahan batu besar dan tebing sungai yang runtuh yang menciptakan lorong-lorong dibawah air. 
- Strainer, suatu penghalang atau benda yang berada tidak jauh diatas permukaan air. Biasanya pada lembah sempit (misal pohon tumbang). 
- Undercut, Biasanya terdapat pada tebing di kelekon sungai berupa rongga di bawah air akibat terjadinya abrasi. 
- Entarpment, Sungai dangkal berbatu dengan arus yang deras. 
- Dam, Tebing kecil pada sungai atau bagian dari sungai yang permukaan dasarnya langsung curam, secara vertikal menyebabkan perbedaan ketinggian permukaan sungai yang cukup tinggi. Dam dapat menyebabkan arus balik yang cukup mematikan. 
- Tongue (lidah air) atau Wave (ombak), merupakan awal Dari jeram/riam sebagai percepatan arus yang bentuknya terlihat dari atas seperti V. Arus ini dibentuk oleh dua buah rintangan berupa batu atau hole, atau karena kecuraman yang tidak teratur. Tongue/wave terbagi atas : 
• Ombak berdiri (Standing wave / Breaking wave). Ombak dengan luapan sangat besar, ombak menghasilkan guncangan dan hentakan balik yang cukup keras akibat dua rintangan besar batu atau hole. 
• Ombak V (V wave). Ombak akibat dari tingginya kemiringan, penyempitan atau derasnya arus akibat 2 atau lebih rintangan yang ada disebelahnya. Ombak ini sangat bagus untuk diarungi. 
• Ombak tak beraturan (Side Curling wave). Ombak yang sangat mudah dapat merubah arah perahu. 

- Stopper (gelombang balik) 
Merupakan gelombang yang berputar vertikal atau terbalik ke hulu sungai yang disebabkan oleh penurunan dasar sungai. 
Jeram ini dapat dibagi menjadi 3 jenis, yaitu : 
• Hole. Pemukaan air yang berbentuk lobang dan ada sirkulasi air dibelakang lubang tersebut. Stopper ini terjadi akibat adanya suatu rintangan didasar sungai yang membentuk cekungan / lubang yang dapat menahan, menjebak dan membalikkan perahu kedalam buih ynag berbahaya. Hole yang sangat besar dan terdapat sirkulasi air dari segala arah disebut dengan ‘Toilet_bowl’, karena bentuk dan sifat fisiknya seperti air kloset waktu di _flushing (hole yang sangat berbahaya). Hole yang tidak terlalu besar berguna dalam mengurangi kecepatan dan membantu manuver perahu (bagus untuk dilintasi). 
• Gelombang Pecah. Stopper terjadi akibat adanya penurunan dasar sungai yang terjal kemudian datar kembali. 
• Eddy / Eddies (arus balik). Eddies yaitu stopper dimana suatu arus sungai seakan-akan berhenti dan berbalik ke arah hulu sungai (up-stream). Eddies terbentuk karena adanya arus yang menabrak rintangan seperti batu atau benda-benda lainnya dan tidak dapat melewati rintangan tersebut sehingga akan terjadi kekosangan atau kekurangan air serta perbedaan tekanan air. Oleh sebab itu, air dari arah lain akan mengalir kembali keatas untuk menyamakan permukaan di daerah lain. Eddies biasanya berada bersebelahan dengan arus utama, pada tikungan, dibelakang benda berupa batu-batu besar. Makin deras arus makin kuat eddies yang ditimbulkan. Eddies berguna dalam sebagai tempat berhenti / atau istirahat, sebagai pengurang kecepatan atau break serta menolong dalam manuver membelokkan perahu. 
- Bends (belokan). Arus sungai yang deras dan membentur dinding pada suatu belokan sebelah luar. 
- Shallows (pendangkalan). Aliran sungai menjadi lebih cepat dikarenakan adanya pedangkalan dasar sungai, ditandai dengan riak-riak kecil air. 

C. Tingkat Kesulitan Sungai 
Tingkat kesulitan sungai terbagi dari grade (kelas) I sampai grade VI, mulai dari ‘sungai mudah’ sampai tingkatan ‘sungai berbahaya’ (American White Water Affiliation (AWWAS)). 

Kelas I (Easy) 
Air sungai mengalir tenang dan kadang-kadang diiringi riam kecil. Jarang dijumpai rintangan seperti batu, pusaran air atau air terjun. Scouting (pengintaian) untuk menentukan lintasan tidak perlu dilakukan. Self rescue (menyelamatkan diri) sangat mudah untuk dilakukan. 

Kelas II ( Novice) 
Air sungai dengan ombak tidak terlalu tinggi. Jarak antar batu besar agak renggang. Scouting masih tidak perlu dilakukan. Self rescue masih mudah dilakukan. 

Kelas III (Intermediate) 
Riam-riam diiringi gelombang-gelombang yang tidak terduga. Manuver dibutuhkan untuk dapat menghindari batu atau hole. Scouting untuk menentukan lintasan sangat membantu bagi yang belum berpengalaman. Untuk yang sudah berpengalaman dapat melakukan scouting tanpa menghentikan perahu. Kadang-kadang team rescue harus siap siaga ditepi sungai. Self rescue masih dapat dilakukan. 

Kelas IV ( Advance) 
Jeram sulit dan sambung-menyambung. Gelombang air bisa mencapai 2 meter dengan variasi kelokan cukup tajam. Posisi batuan berdekatan dan cukup berbahaya dan arusnya liar. Scouting dan manuver cepat dan terlatih sangat diperlukan . Medan cukup potensial untuk kecelakaan. Self rescue sulit dilakukan dan tim rescue sangat perlu dalam pengarungan. 

Kelas V (Expert) 
Kesulitan tinggi mempunyai riam yang panjang dan liar serta sambung-menyambung. Arus lebih deras dengan jeram yang berbahaya ditambah batu-batu yang besar dan sungai yang sempit. Di butuhkan manuver rumit dan cepat agar dapat melaluinya. Self rescue tidak mungkin dilakukan, bila terjadi kecelakaan, river rescue sangat sulit untuk dilakukan meski oleh yang ahli. Scouting merupakan keharusan tapi sering kali sulit dilakukan. 

Kelas VI (Extrime) 
Kelas dengan kesulitan dan bahaya yang sangat ekstrim. River rescue tidak mungkin dapat dilakukan. Untuk pengarungan dibutuhkan persiapan ynag sangat cermat. Secara umum kelas ini tidak dianjurkan untuk diarungi. 
Sungai pada kelas ini dapat dapat mengalami penurunan grade atau kelas menjadi kelas V apabila sungai ini telah berhasil diarungi secara aman. Setiap sungai memiliki banyak kelas tergantung keadaan karakteristik dan volume airnya. 

III. Perlengkapan Arung Jeram 

Perlengkapan merupakan salah satu persyaratan dalam kegiatan arung jeram. perlengkapan yang umum digunakan yaitu : 
1. Perahu 
Perahu dalam pengarungan haruslah tahan dari benturan dan abrasi (dari bahan sintetis antara serat nilon dengan EPDM (karet sintetis), PVC, Neoprene, dan Hypalon), perahu haruslah dapat mudah dikendalikan. Perahu yang biasanya digunakan dalam arung jeram saat ini memiliki sistem pengeluaran air sendiri (Self_Bailer) maksudnya lantai dari perahu diisi dengan udara dengan harapan lantai akan tetap mengapung diatas permukaan air sehingga dengan sendirinya air dapat keluar melalui lubang disekeliling perahu. 
Berdasarkan bentuk, perahu dibedakan atas : 
a. Perahu karet, perahu yang terbentuk dari tabung udara dan terbuat dari karet berserat. Dalam tabung terdapat sekat-sekat yang berbentuk sel atau ruangan yang terpisah, sehingga jika satu bagian bocor maka yang lain tidak akan terpengaruh. Perahu karet dikategorikan menjadi 2 tipe : 
- Landing Craft Rubber (LCR). Perahuberbentuk seperti tapak kuda dan bagian belakang terdapat kayu. 
- River Boat. Perahu berbentuk oval khusus untuk mengarungi arus deras.

b. Perahu lesung, dapat dibedakan menjadi 2 jenis : 
- Kayak. Perahu dengan bentuk lancip pada bagian depan dan belakangnya. 
- Canadian Canoe (kano). Perahu dengan bentuk sama seperti kayak, hanya lebih lebar. 

c. Dorry (sampan), perahu bentuk lancip, terbuka dan lebih lebar dari canoe. Ukuran panjang 5,5 m dan lebar < 2 m. 

d. Cataraft, perahu yang dibuat dari dua, tiga atau empat tabung karet berisi udara, disatukan dengan menggunakan frame dari kayu dan alumunium. 
e. Inflatable, Perahu rakit yang dapat dipompa. Dapat digunakan dengan tenaga manusia atau dengan tenaga mesin (Inflatable boats). Digunakan untuk perairan laut atau danau. 

2. Pompa. Berfungsi untuk memasukkan udara kedalam perahu. Pompa dibagi dalam pompa kaki dan pompa tangan. 

3. Repair kit. Terdiri dari lem, benang, nylon, jarum jahit, dan bahan penambal. 

4. Tali penyelamat (Rescue Rope). Berfungsi untuk menolong anggota tim yang terjatuh kesungai dan dapat berguna juga dalam linning saat scouting. Tali terbuat dari bahan nylon dengan warna mencolok agar dapat terlihat oleh korban, mempunyai daya apung yang tinggi. 

5. Kantung kedap air ( Dry Bag). Kantong ini berguna untuk menyimpan kamera, obat-obatan, makanan dan benda-benda lain agar tidak basah. 

6. Carabiner. Terbuat dari alumunium alloy, berguna untuk menghubungkan satu alat dengan alat lainnya. Misalnya, untuk mengaitkan throw bag pada pada D_ring (cincin metal berbentuk D yang menempel pada perahu). 
7. Dayung. Berguna dalam manuver, mengatur gerakan perahu dan menambah serta mengurangi kecepatan perahu. Biasanya terbuat dari kayu, alumunium, fiberglass. Bagian dari dayung terdiri dari gagang tangkai (T-grip), tangkai dayung dan bilah (blade). Dayung yang biasa digunakan adalah dari jenis paddle raft satu lidah, panjangnya 140-180 cm ( normalnya berkisar antara 150-160 cm). Terbuat dari playwood atau kombinasi dari alumunium dengan fiberglass. 

8. Helm. Penutup kepala berguna untuk melindungikepala bagian kening, pelipis, telinga, dan kepala bagian belakang dari benturan. Terbuat dari bahan tidak mudah pecah dan memiliki lubang-lubang kecil diatasnya. 
9. Jaket Pelampung. Berguna untuk mengangkat tubuh, melindungi tubuh dari dingin dan bagian tubuh yang penting seperti dada, leher dan kepala bagian belakang dari benturan benda keras disungai. 
Terdapat 2 jenis pelampung, Yaitu : 
- Pelampung udara, mempunyai daya apung tinggi namaun kurang aman jika berbenturan dengan benda keras seperti batu. 
- Pelampung padat, Terbuat dari spon, cukup tahan terhadap benturan namun jika terlalu lama terendam dalam air / basah maka daya apungnya akan berkurang. Pelampung ini cocok untuk kegiatan arung jeram. 

10. P3K. Obat-obatan dan perlengkapan perawatan harus disesuaikan dengan medan yang diarungi , cuaca pada waktu pengarungan dan lain-lainnya. 

11. Peluit. Digunakan sebagi pembantu dalam pemberian kode bahaya tertentu. 
IV. Teknik Mendayung Dasar 

Dayung terdiri dari 3 bagian yaitu blade / bilah, tangkai dayung, dan pegangan kayu (T-grip). Cara memegang dayung yang benar yaitu tangan yang satu (kiri atau kanan tergantung posisi di perahu) memegang pada pegangan dayung sedang tangan yang lain memegang tangkai dayungsekitar satu jengkal dari batas blade dengan tangkai. Posisi blade dibawah (yang bersentuhan dengan air) dan posisi pegangan berada sejajar di depan dada. 

Empat teknik dasar mendayung : 
a. Dayung Maju (Forward Stroke) 
b.Dayung mundur (Backward Stroke) 
c.Belok kiri 
d.belok kanan 

Dalam teknik mendayung dasar juga dikenal perintah “Dayung Cepat” atau “Dayung Kuat” sesuai dengan arah yang diinginkan. Tekniknya yaitu terletak pada titik berat tubuh, contohnya dayung maju kuat. Dayungan dimulai dengan membenamkan lidah dayung jauh ke depan dengan cara mencondongkan tubuh jauh kedepan lalu mendorong Pangkal pegangan dayung di ikuti gerakan tubuh kebelakang (pada dasarnya sama dengan dayung maju biasa). 
Perintah lainnya seperti perintah “stop” atau “Berhenti” . Tekniknya yaitu berhenti mendayung dan mengeluarkan dayung dari dalam air lalu meletakkannya sejajar dengan paha atau sejajar dada. Perintah ini dimaksudkan agar pengontrolan perahu oleh skipper lebih mudah. 

V . Self Rescue (Teknik Penyelamatan Diri) 

Masalah yang sering terjadi adalah terlempar dari perahu dan berenang di jeram sungai, hal pertama yang harus dilakukan adalah jangan panik baik anggota tim yang jatuh maupun yang berada diatas perahu atau yang akan menolong. Berikut beberapa teknik Self Rescue dalam kondisi kecelakan tertentu : 

a. Berenang di Jeram 
Hal yang perlu diingat dan dilakukan saat sedang berenang di jeram,yaitu : 
1 . Tenang. Yakinkan diri bahwa pelampung kuat mengangkat tubuh anda ke permukaan air secepatnya. 
2 . Jika anda muncul di bawah perahu, gunakan tangan anda untuk menggeser badan ke arah samping perahu. 
3 . Jika kesulitan untuk naik ke atas perahu jangan ragu minta bantuan pada anggota tim lain yang berada diatas perahu untuk membantu. 
4 . Jika tidak dapat kembali ke perahu secepatnya berenang dengan posisi duduk atau telentang, dengan kaki di usahakan sedekat mungkin dengan permukaan air, badan menghadap ke arah hilir sungai. 
5 . Jika ada batu di depan, sambut dengan kaki, badan kemungkinan akan terputar. Setelah itu kembali ke posisi semula. 
6 . Bila melihat jeram mulai kecil dan sedikit, berenanglah segera menuju ke tepi sungai atau bila ada eddies, berenaglah menuju ke eddies. Kemudian tunggulah hingga dijemput anggota tim lainnya. 
Posisi telentang menghadap ke arah hilir sungai dengan kaki tetap berada di atas permukaan air dan pandangan selalu mengarah kedepan dimaksudkan agar kita dapat mengetahui rintangan yang ada di depan kita seperti batu strainer dan lain-lainnya, juga untuk menghindarkan diri dari kaki terjepit di celah batu.
Hal lainnya yaitu juga untuk membantu kita mengorientasi bagian depan sungai untuk antisipasi tindakan penyelamatan. 

b. Perahu Terjebak (Wrap)
Perahu wrap di batu atau di dinding sungai yaitu keadaan dimana perahu terbentur batu / dinding, sedangkan arus kuat mendorong dari arah berlawanan. Jika sisi bagian hulu tertekan air dan tenggelam maka perahu akan melekat di batu / dinding. Cara melepaskan diri yaitu dengan teknik ‘Filp Line’ (jika Wrap ringan) yaitu dengan mendorong atau menarik perahu ke arah bagian batu yang tidak menyebabkan wrap, cara lain yaitu dengan teknik ‘Z-Drag’ (bila wrap berat) yaitu dengan mengempiskan salah satu katup tabung perahu. 
Keadaan wrap ini dapat dihindari jika pada saat perahu akan membentur batu atau dinding anggota tim pindah posisi ke sisi yang berada pada sisi perahu yang akan menabrak batu /dinding. Akibatnya sisi bagian hulu (sisi perahu yang dikosongkan) akan terangkat sehingga arus kuat melewati bagian bawah perahu. 

c. Perahu Terbalik 
Keadaan ini bisa disebabkan ketika melewati dam, hole ataupun saat masuk eddies yang kuat dan besar. 
Teknik dalam membalikkan perahu : 
1. Bagi tugas anggota tim yang naik ke perahu yang terbalik dengan yang tetap berada di air sambil memegang erat perahu (pada D-ring atau pada Toat perahu) 
2. Anggota tim yang diatas perahu memasangkan carabiner ke D-rig lalu mengikatnya dengan tali / webbing (sisi yang akan dibalik). 
3. Lakukan pembalikkan perahu dengan menarik tali atau dengan bantuan T-grip dayung (terlebih dahulu dikaitkan dengan tali). Posisi pembalik perahu berada di bagian sisi yang menjadi tumpuan atau lawan dari sisi yang akan ditarik. 
Anggota tim dibawah bersiap-siap (memegang erat toat perahu). Perahu dibalik dengan cara tali ditarik ke arah belakang yang didahului dengan hentakan keras hingga perahu oleng terbalik kembali. 
4. Setelah perahu terbalik seperti semula, posisi anggota tim yang tadinya diatas perahu terbalik kini berada dibawah dan sebaliknya dengan anggota tim yang dibawah kini berada diatas perahu. 
5. Anggota tim yang kini diatas membantu menaikkan anggota tim yang berada dibawah. 
6. Selama dalam pembalikkan perahu diusahakan agar barang-barang tidak boleh hilang contohnya dayung. 

Penggunaan peralatan penyelamat dan tali-temali (rescue rope) 
Dalam self rescue juga digunakan alat bantuan dalam penyelamatan misalnya menggunakan rescue rope atau tali lempar ketika ada peserta yang hanyut, tertahan di hole, terperangkap di jeram, di atas batu, di eddies, ketika ada perahuyang wrap atau terjepit diantara batu. 

VI. Teknik Pengarungan 
Naluri 
Pada keadaan darurat orang mempunyai reaksi berbeda. Jika dikelompokkan ada dua kelompok, sebagai berikut: 
1. Orang-orang yang terlatih dan berpengalaman. 
2. Orang yang masih awam, hanya bisa berdiri dengan mulut terbuka, mata melotot, berteriak memberi instruksi dengan tidak jelas. 
Keahlian ini muncul dari latihan dan pengalaman yang terus-menerus dikembangkan. Mempelajari bahaya-bahaya di sungai, kerjasama tim, jam terbang, dll. Sebagian besar kecelakaan di sungai di sebabkan oleh persiapan yang kurang matang, perlengkapan tidak memadai, tidak mengerti karakteristik jeram. 

Pengarahan Sebelum Pengarungan 
Sebelum pengarungan yang terpenting adalah anggota tim mengerti apa yang harus dilakukannya. Untuk itu sebelum pengarungan, diperlukan pengarahan yang bersifat untuk memperjelas hal yang penting selama pengarungan, seperti : pembagian tanggung jawab P3K, alat rescue, makanan, tim darat, perahu pertama, perahu terakhir, alat reparasi, pompa, kapten tiap perahu, radio komunikasi, juru foto/video, menghindari tempat berbahaya seperti air terjun, dam, jeram besar, dll. 

Persiapan Pengarungan
Sebelum melakukan pengarungan dapatkan informasi sebanyak-banyaknya mengenai sungai yang akan diarungi. Informasi tersebut dapat berupa : 
1. Tempat awal atau start pengarungan 
2. Akhir pengarungan. 
3. Adakah pilihan lain jika waktu tidak memungkinkan 
4. Berapa jarak dan waktu tempuh pengarungan 
5. Berapa cadangan waktu jika ada kejadian yang tidak diinginkan 
6. Berapa tingkat kesulitan sungai yang akan diarungi 
7. Sampai berapa tingkat kesulitan sungai jika air sungai naik 
8. Lokasi jeram-jeram besar dan tempat berbahaya berada 
9. Dimana jalur evakuasi 
10. Peta topografi wilayah pengarungan 
11. Dimana telepon, rumah sakit, kantor polisi terdekat 

Dalam suatu pengarungan sungai yang belum pernah diarungi atau sungai dengan level III atau lebih yang sudah lama tidak diarungi diharuskan dilakukan scouting. Kemudian direncanakan pengarungannya dan buat keputusan. Keputusan yang dibuat tergantung pada kesulitan jeram atau kemungkinan apa yang mungkin terjadi dan siapkan cara penanggulangannya. 
Dalam pengarungan sungai diatas level III biasanya ditetapkan suatu sistem pengarungan garis (River Running System) dimana di dalam suatu pengarungan menggunakan dua atau lebih perahu, maksudnya perahu yang satu dengan perahu yang lainnya saling menjaga. Cara ini juga merupakan persyaratan dalam suatu ekspedisi sungai. Dalam pengarungan ada dua perahu yang berperan penting, yaitu : 

1. Perahu Pertama (Lead Boat) 
Perahu dikemudikan oleh pemandu atau skipper yang cukup handal karena pemandu ini bertugas membuka jalur dan menjaga perahu yang ada dibelakangnya 

2. Perahu Terakhir (Sweep Boat) 
Perahu ini dikemudikan oleh skipper terbaik (biasanya juga sebagai Trip Leader atau pemimpin pengarungan). Skipper ini bertanggung jawab atas semua kejadiaan atau masalah yang terjadi dalam pengarungan dan membawa semua peralatan penting dalam pengarungan seperti pompa, P3K, repair kit, dan sebagainya. 
Dalam sistem ini yang penting dilakukan antar perahu adalah saling menunggu. Maksudnya adalah untuk memastikan bahwa perahu yang dibelakang ada yang menjaga. Dalam mengarungi sungai yang belum pernah diarungi atau suatu ekspedisi harus selalu berhenti sebelum jeram untuk scouting dan merencanakan pengarungan dan berhenti pula sesudah jeram untuk menjaga perahu yang lain yang akan mengarungi jeram tersebut. 

Pembacaan Jeram 
Dalam suatu pengarungan di sungai seperti yang disebut diatas yaitu sungai diatas level III atau sungai yang belum pernah diarungi, pembacaan jeram sangat diperlukan untuk merencanakan pengarungan. Pembacaan jeram ini bisa dilakukan dengan dua cara, yaitu : 
1. Read and Run 
Membaca jeram dari atas perahu dam keadaan berjalan. Maksudnya ketika menuju hilir dan mengenali jenis bahaya apa saja yang ada di jeram dan mencari jalur yang baik untuk dilewati. 

2. Scouting 
Membaca jeram dari pinggir sungai dengan cara menghentikan perahu terlebih dahulu dan berjalan kaki menyusur daerah pinggir sungai sambil mengamati karakteristik jeram di daerah tersebut. 

Apabila jeram tersebut terlalu bahaya untuk dilalui maka hal yang perlu dilakukan untuk melanjutkan pengarungan yaitu : 
a. Linning, semua peserta berjalan kaki di pinggir sungai, perahu dituntun dengan tali melalui tepian sungai. 
b. Portaging, apabila medan atau lokasi sulit untuk melakukan linning seperti sungai bertebing. Hal yang dilakukan yaitu dengan berjalan kaki dengan perahu diangkat ,baik dengan terlebih dahulu mengempeskan perahu atau tanpa mengempeskan perahu. 
Dari semua teknik pengarungan , setiap pengarungan diperlukan seorang pimpinan perjalanan yang bersifat tegas bijaksan dan berpengalaman dalam mengambil keputusan. Hal lainnya yang perlu diingat adalah hilangkan sikap ego diri sendiri dalam setiap pengarungan. Kita harus jujur pada diri sendiri apakah mampu atau takut melalui jeram atau rintangan sungai yang sulit dan berbahaya. Dalam hal ini kita harus bersikap bijaksana dalam mengambil keputusan untuk menghadapi resiko yang akan muncul. Dan jika ragu-ragu untuk mengambil keputusan, akan lebih baik jika kita berani mengatakan “TIDAK !!!” 




Sumber :Mapalas

04 Maret 2017


Turun tebing memerlukan tehnik guna menjaga keseimbangan badan dan turun dengan selamat tentunya. Tak mudah, tetapi juga tak terlalu sulit selama kita mau mengenalnya dan mau mempelajarinya disertai praktek yang relatif benar. Tehnik turun tebing ini di kenal di dunia panjat tebing dengan nama Rappeling. Tehnik ini di kategorikan sebagai tehnik yang sepenuhnya tergantung dari peralatan.

       Prinsip Rappeling

     - Menggunakan tali rappel sebagai jalur lintasan dan tempat bergantung.

    - Menggunakan gaya berat badan dan gaya tolak kaki pada tebing sebagai pendorong gerak turun.

    - Menggunakan salah satu tangan untuk keseimbangan dan tangan lainnya untuk mengatur kecepatan.

     Variasi tehnik Rappeling

     1. Body Rappel

     Menggunakan peralatan tali saja, yang dibelitkan sedemikian rupa pada badan. Pada teknik ini terjadi gesekan antara badan dengan tali sehingga bagian badan yang terkena gesekan akan terasa panas.

     2. Brakebar Rappel

     Menggunakan sling/tali tubuh, carabiner, tali, dan brakebar. Modifikasi lain dari brakebar adalah descender. Pemakaiannya hampir serupa, dimana gaya gesek diberikan pada descender atau brakebar.

     3. Sling Rappel

     Menggunakan sling / tali tubuh, carabiner, dan tali. Cara ini paling banyak dilakukan karena tidak memerlukan peralatan lain, dan dirasakan cukup aman. Jenis simpul yang digunakan adalah jenis Italian hitch.

     4. Arm Rappel / Hesti

     Menggunakan tali yang dibelitkan pada kedua tangan melewati bagian belakang badan. Dipergunakan untuk tebing yang tidak terlalu curam.

     Dalam rapelling, usahakan posisi badan selalu tegak lurus pada tebing, dan jangan terlalu cepat turun. Usahakan mengurangi sesedikit mungkin benturan badan pada tebing dan gesekan antara tubuh dengan tali. Sebelum memulai turun, hendaknya :

     1. Periksa dahulu anchornya.

     2. Pastikan bahwa tidak ada simpul pada tali yang dipergunakan.

     3. Sebelum sampai ke tepi tebing hendaknya tali sudah terpasang dan pastikan bahwa tali sampai ke bawah ( ke tanah ).

     4. Usahakan melakukan pengamatan sewaktu turun, ke atas dan ke bawah, sehingga apabila ada batu atau tanah jatuh kita dapat menghindarkannya, selain itu juga dapat melihat lintasan yang ada.

     5. Pastikan bahwa pakaian tidak akan tersangkut carabiner atau peralatan lainnya.

     Peralatan Pendakian

     1. Tali Pendakian

     Fungsi utamanya dalam pendakian adalah sebagai pengaman apabila jatuh.Dianjurkan jenis - jenis tali yang dipakai hendaknya yang telah diuji oleh UIAA, suatu badan yang menguji kekuatan peralatan - peralatan pendakian. Panjang tali dalam pendakian dianjurkan sekitar 50 meter, yang memungkinkan leader dan belayer masih dapat berkomunikasi. Umumnya diameter tali yang dipakai adalah 10 - 11 mm, tapi sekarang ada yang berkekuatan sama, yang berdiameter 9.8 mm.

 Ada dua macam tali pendakian yaitu :

     * Static Rope, tali pendakian yang kelentirannya mencapai 2-5 % fari berat maksimum yang diberikan. Sifatnya kaku, umumnya berwarna putih atau hijau. Tali static digunakan untuk rappelling.

    * Dynamic Rope, tali pendakian yang kelenturannya mencapai 5-15 % dari berat maksimum yang diberikan. Sifatnya lentur dan fleksibel. Biasanya berwarna mencolok ( merah, jingga, ungu ).

     2. Carabiner

     Adalah sebuah cincin yang berbentuk oval atau huruf D, dan mempunyai gate yang berfungsi seperni peniti. Ada 2 jenis carabiner :

     * Carabiner Screw Gate ( menggunakan kunci pengaman ).

    * Carabiner Non Screw Gate ( tanpa kunci pengaman )

     3. Sling

     Sling biasanya dibuat dari tabular webbing, terdiri dari beberapa tipe. Fungsi sling antara lain :

    - sebagai penghubung

    - membuat natural point, dengan memanfaatkan pohon atau lubang di tebing.

    - Mengurangi gaya gesek / memperpanjang point

    - Mengurangi gerakan ( yang menambah beban ) pada chock atau piton yang terpasang.

     4. Descender

     Sebuah alat berbentuk angka delapan. Fungsinya sebagai pembantu menahan gesekan, sehingga dapat membantu pengereman. Biasa digunakan untuk membelay atau rappelling.

     5. Ascender

     Berbentuk semacam catut yang dapat menggigit apabila diberi beban dan membuka bila dinaikkan. Fungsi utamanya sebagai alat Bantu untuk naik pada tali.

     6. Harnes / Tali Tubuh

     Alat pengaman yang dapat menahan atau mengikat badan. Ada dua jenis hernas :

     * Seat Harnes, menahan berat badan di pinggang dan paha.

    * Body Harnes, menahan berat badan di dada, pinggang, punggung, dan paha.

    Harnes ada yang dibuat dengan webbning atau tali, dan ada yang sudah langsung dirakit oleh pabrik.

     7. Sepatu

     Ada dua jenis sepatu yang digunakan dalam pemanjatan :

     * Sepatu yang lentur dan fleksibel. Bagian bawah terbuat dari karet yang kuat. Kelenturannya menolong untuk pijakan - pijakan di celah - celah.

    * Sepatu yang tidak lentur/kaku pada bagian bawahnya. Misalnya combat boot. Cocok digunakan pada tebing yang banyak tonjolannya atau tangga - tangga kecil. Gaya tumpuan dapat tertahan oleh bagian depan sepatu.

     8. Anchor ( Jangkar )

     Alat yang dapat dipakai sebagai penahan beban. Tali pendakian dimasukkan pada achor, sehingga pendaki dapat tertahan oleh anchor bila jatuh. Ada dua macam anchor, yaitu :

     * Natural Anchor, bias merupakan pohon besar, lubang - lubang di tebing, tonjolan-tonjolan batuan, dan sebagainya.

    * Artificial Anchor, anchor buatan yang ditempatkan dan diusahakan ada pada tebing oleh si pendaki. Contoh : chock, piton, bolt, dan lain - lain.

     Prosedur Pendakian

     Tahapan - tahapan dalam suatu pendakian hendaknya dimulai dari langkah - langkah sebagai berikut

     1. Mengamati lintasan dan memikirkan teknik yang akan dipakai.

     2. Menyiapkan perlengkapan yang diperlukan.

     3. a. Untuk leader, perlengkapan teknis diatur sedemikian rupa, agar mudah untuk diambil / memilih dan tidak mengganggu gerakan. Tugas leader adalah membuka lintasan yang akan dilalui oleh dirinya sendiri dan pendaki berikutnya.

  b. Untuk belayer, memasang anchor dan merapikan alat - alat ( tali yang akan dipakai ). Tugas belayer adalah membantu leader dalam pergerakan dan mengamankan leader bila jatug. Belayer harus selalu memperhatikan leader, baik aba-aba ataupun memperhatikan tali, jangan terlalu kencang dan jangan terlalu kendur.

       4. Bila belayer dan leader sudah siap memulai pendakian, segera memberi aba - aba pendakian.

      5. Bila leader telah sampai pada ketinggian 1 pitch ( tali habis ), ia harus memasang achor.

      6. Leader yang sudah memasang anchor di atas selanjutnya berfungsi sebagai belayer, untuk mengamankan pendaki berikutnya.




Sumber : Wanapala


03 Maret 2017


Dalam kehidupan sehari-hari, kita sudah amat familiar dengan gelombang radio, gelombang televisi atau dalam terapan khusus ada gelombang radar, gelombang sonar, gelombang seismik.

Dalam medis, qt mungkin pernah menjumpai, bahkan malah pernah diperiksa ‘heart rate’nya dengan stetoskop , atau bagian alat yang ditempel di telinga saat menggunakan tensimeter mmHg atau spigmomanometer, serta visualisasi janin memanfaatkan ultrasonograpry (USG), yang merupakan terapan gelombang bunyi. Atau kalau tidak di rumah sakit minimal pernah lihat di sinetron drama, jika seseorang dalam keadaan kritis, maka Elektrocardiography (ECG) yang berbasiskan gelombang EM, akan bersiul dengan sinyalnya, tiit…tiit…tiit, dan kalayak akan menunggu dengan tegang, sendu dan cemas, dan ketika siulannya membahana panjang tiiiiiiiiiiiiiitttttttttt… maka bertangis-tangisan kalayak, xixixi…. 

Ngomong-ngomong tentang Otak lagi, Jaringan otak manusia menghasilkan gelombang listrik yang berfluktuasi. Neuron-neuron di korteks otak mengeluarkan gelombang-gelombang listrik dengan voltase yang sangat kecil (mV) ( Bagi anda yang belum memahami kelistrikan pada sel syaraf dan otot jantung, silahkan baca dulu di materi fisika kesehatan tentang Biolistrik ). Gelombang listrik ini disebut brainwave atau Gelombang Otak.

Selain EEG yang ditemukan oleh Emil HDB Reymond atau yang lebih canggih MEG yang ditemukan fisikawan biomagnetik David Cohen, mungkin anda pernah membaca adanya piranti Brain Mapping, CT Scan, PET FMRI? Alat ini juga digunakan untuk mengamati aktivitas otak manusia. Perbedaannya adalah Brain Mapping, dkk hanya memeriksa dan memetakan. Letak dan keadaan metabolisme serta perubahan keadaan otak secara fisik. Biasanya untuk mengetahui adanya gangguan, kerusakan atau kecacatan otak, misalkan tumor otak, pecahnya pembuluh darah di otak, benturan pada kepala dan seterusnya. Sedangkan EEG memeriksa getaran, frekwensi, sinyal atau Gelombang Otak (Brainwave) yang kemudian dikelompokkan kedalam beberapa kondisi kesadaran.

Dalam fisika, identifikasi gelombang umumnya dikaitkan dengan panjang gelombang atau frekwensi-nya. Dalam gelombang otak ini yang akan qt tinjau adalah fekuensi-nya. Apakah frekuensi itu? Ya, jumlah pulsa (impuls) perdetik dengan satuan Hz (Hertz). Nah, berdasarkan riset selama bertahun-tahun di berbagai negara maju, frekwensi otak manusia berbeda-beda untuk setiap fase sadar, rileks, tidur ringan, tidur nyenyak, trance, panik, terhipnotis, bermimpi, tidur berjalan dan sebagainya. Melalui penelitian yang panjang, akhirnya para ahli syaraf (otak) sependapat bawah Gelombang Otak (Brainwave) berkaitan dengan kondisi pikiran.
Riset selama bertahun-tahun menunjukkan bahwa Gelombang Otak (Brainwave) tidak hanya menunjukkan kondisi pikiran dan tubuh seseorang, tetapi dapat juga distimulasi untuk mengubah kondisi mental seseorang. Dengan mengkondisikan otak agar memproduksi atau mereduksi jenis frekuensi Gelombang Otak tertentu, maka dimungkinkan untuk menghasilkan beragam kondisi mental dan emosional.

Secara garis besar, otak manusia menghasilkan empat jenis Gelombang Otak (Brainwave) secara bersamaan, yaitu Gamma, Beta, Alpha, Tetha, Delta. Akan tetapi selalu ada jenis Gelombang Otak yang dominan, yang menandakan aktivitas otak saat itu. Misalnya jika kita tertidur, maka Gelombang Otak yang dominan adalah Delta.
Berikut disajikan klasifikasi Gelombang Otak berdasarkan frekuensinya

1. GAMMA (20 hz -40 hz)
Gelombang Gamma cenderung merupakan yang terendah dalam amplitudo dan gelombang paling cepat. Adalah Gelombang Otak (Brainwave) yang terjadi pada saat seseorang mengalami aktifitas mental yang sangat tinggi, misalnya sedang berada di arena pertandingan, perebutan kejuaraan, tampil dimuka umum, sangat panik, ketakutan, kondisi ini dalam kesadaran penuh. Berdasarkan penyelidikan Dr. Jeffrey D. Thompson (Center for Acoustic Research) di atas gelombang gamma sebenarnya masih ada lagi yaitu gelombang Hypergamma ( tepat 100 Hz ) dan gelombang Lambda (tepat 200 Hz), yang merupakan geolombang-gelombang supernatural atau berhubungan dengan kemampuan yang luar biasa.

2. BETA (di atas 12 hz atau dari 12 hz s/d 20 hz)
Merupakan Gelombang Otak (Brainwave) yang terjadi pada saat seseorang mengalami aktifitas mental yang terjaga penuh. Anda berada dalam kondisi ini ketika Anda melakukan kegiatan Anda sehari-hari dan berinteraksi dengan orang lain di sekitar Anda. Frekwensi beta adalah keadaan pikiran anda sekaran ini, ketika Anda duduk di depan komputer membaca artikel ini. Gelombang beta dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu high beta (lebih dari 19 Hz) yang merupakan transisi dengan getaran gamma , lalu getaran beta (15 hz -18 hz) yang juga merupakan transisi dengan getaran gamma, dan selanjutnya lowbeta (12 hz ~ 15 hz). Gelombang Beta di perlukan otak ketika Anda berpikir, rasional, pemecahan masalah, dan keadaan pikiran di mana Anda telah menghabiskan sebagian besar hidup Anda.

Sensori Motor Rhytm (12 hz – 16 hz)
SMR sebenarnya masih masuk kelompok getaran lowbeta, namun mendapatkan perhatian khusus dan juga baru dipelajari secara mendalam akhir-akhir ini oleh para ahli, karena penderita epilepsy, ADHD ( Attention Deficit and Hyperactivity Disorder) dan Autism ternyata tidak menghasilkan gelombang jenis ini. Para penderita gangguan di atas tidak tidak mampu berkonsentrasi atau fokus pada suatu hal yang dianggap penting. Sehingga setiap pengobatan yang tepat adalah cara agar otaknya bisa menghasilkan getaran SMR tersebut. Dan hal ini bisa dilakukan dengan teknik neurofeedback .

3. ALPHA ( 8 hz – 12 hz )
Adalah Gelombang Otak (Brainwave) yang terjadi pada saat seseorang yang mengalami relaksaksi atau mulai istirahat dengan tanda-tanda mata mulai menutup atau mulai mengantuk. Anda menghasilkan gelombang alpha setiap akan tidur, tepatnya masa peralihan antara sadar dan tidak sadar. Fenomena alpha banyak dimanfaatkan oleh para pakar hypnosis untuk mulai memberikan sugesti kepada pasiennya. Orang yang memulai meditasi (meditasi ringan) juga menghasilkan gelombang alpha. Frekwensi alpha 8 -12 hz , merupakan frekwensi pengendali, penghubung pikiran sadar dan bawah sadar. Anda bisa mengingat mimpi Anda, karena Anda memiliki gelombang alpha. Kabur atau jelas sebuah mimpi yang bisa Anda ingat, tergantung kualitas dan kuantitas gelombang alpha pada saat Anda bermimpi. Alpha adalah pikiran yang paling cocok untuk pemrograman bawah sadar

4. THETA ( 4 hz – 8 hz )
Adalah Gelombang Otak (Brainwave) yang terjadi pada saat seseorang mengalami tidur ringan, atau sangat mengantuk. Tanda-tandanya napas mulai melambat dan dalam. Selain orang yang sedang diambang tidur, beberapa orang juga menghasilkan Gelombang Otak (Brainwave) ini saat trance, hypnosis, meditasi dalam, berdoa, menjalani ritual agama dengan khusyu. Orang yang mampu mengalirkan energi chi, prana atau tenaga dalam, juga menghasilkan Gelombang Otak (Brainwave) theta pada saat mereka latihan atau menyalurkan energinya kepada orang lain.

Dengan latihan, kita dapat memanfaatkan Gelombang Otak (Brainwave) Theta untuk tujuan yang lebih besar, yaitu memasuki kondisi meditasi yang sangat dalam, namun, biasanya begitu Anda telah mencapai theta, anda menjadi mudah tertidur. Disinilah alasan bahwa gelombang Alpha adalah keadaan utama untuk pemrograman pikiran bawah sadar Anda. Jika anda ingin bereksperimen dengan meditasi melalui Gelombang Otak (Brainwave) theta, duduklah tegak untuk tetap sadar dan mencegah dari tertidur.

Kemudian, bayi dan balita rata-rata tidur lebih dari 12 jam dalam sehari. Itulah mengapa otak anak-anak selalu dalam fase gelombang alpha dan theta. Perlu diingat, gelombang alpha dan theta adalah gelombang pikiran bawah sadar. Oleh sebab itu, anak-anak cepat sekali dalam belajar dan mudah menerima perkataan dari orang lain apa adanya. Gelombang Otak (Brainwave) ini juga menyebabkan daya imajinasi anak-anak luar biasa. Ketika mereka bermain mobil-mobilan misalnya, imajinasi mereka aktif dan permainan menjadi sangat seru.

Pernahkah Anda mendengar berita kecelakaan yang menewaskan banyak korban, tapi keajaiban terjadi di situ? Di beritakan seorang anak bayi selamat dari kecelakaan maut tersebut. Gelombang Otak (Brainwave) theta juga dikenal sebagai “gelombang ajaib”, karena berkaitan dengan kekuatan psikis. Berdasarkan penyelidikan para ahli, bahwa banyak terjadi kecelakaan pesawat udara, tabrakan, kebakaran, kecelakaan kapal laut yang menewaskan banyak orang. Namun ada keanehan, beberapa anak balita bisa selamat. Kemungkinan ini dikarenakan anak-anak hampir setiap saat dalam kondisi gelombang theta. Perasaan dekat dengan Tuhan pun akan terjadi apabila kita dapat memasuki fase gelombang theta. Anda mungkin pernah mengalaminya saat Anda berdoa, meditasi, melakukan ritual-ritual agama. Dengan dasar inilah “GOD SPOT” ditemukan.

5. DELTA (0.5 hz – 4 hz)
Adalah Gelombang Otak (Brainwave) yang memiliki amplitudo yang besar dan frekwensi yang rendah, yaitu dibawah 3 hz. Otak Anda menghasilkan gelombang ini ketika Anda tertidur lelap, tanpa mimpi. Fase Delta adalah fase istirahat bagi tubuh dan pikiran. Tubuh Anda melakukan proses penyembuhan diri, memperbaiki kerusakan jaringan, dan aktif memproduksi sel-sel baru saat Anda tertidur lelap. Gelombang Delta adalah gelombang yang paling rendah pada otak anda, otak tidak akan pernah mencapai frekwensi 0 hz, karena jika otak anda dalam kasus ini Anda akan mati!

Schumann Resonance (7.83 hz)
Schumann Resonance adalah getaran alam semesta pada frekwensi 7.83 Hz yang juga masuk dalam kelompok gelombang theta. Seseorang yang otaknya mampu menghasilkan dan mempertahan frekwensi ini memiliki kemampuan supernatural, seperti ESP, telepati, clayrvoyance, dan fenomena psikis lainnya. Anak indigo, yaitu anak super cerdas yang biasanya berkemampuan ESP atau Extra Sensory Perception, juga bisa memasuki gelombang ini dengan mudah dan konstan.

Penemuan baru dibidang frekwensi dan Gelombang Otak (Brainwave) manusia oleh Dr. Jeffrey D. Thompson dari Neuroacoustic Research, bahwa masih ada gelombang dan frekwensi lain dibawah Delta, atau dibawah 0.5 hz, yaitu frekwensi EPSILON, yang juga sangat mempengaruhi aktifitas mental seseorang dalam kemampuan supranatural, seperti pada gelombang theta diatas.



Talas atau dikenal dengan nama latin Colocasia esculenta L., suku talas-talasan atau Araceae) merupakan tumbuhan penghasil umbi yang cukup penting. Diduga asli berasal dari Asia Tenggara atau Asia Tengah bagian selatan, talas diperkirakan telah dibudidayakan manusia sejak masa purba, bahkan sebelum padi ditanam orang. Talas bisa tumbuh 50 cm tinggi bahkan hingga 2 meter, dan  ternyata didalam talas mengandung banyak kesehatan dari daun talas, kulit dan umbinya. berikut keteranganya

Manfaat Daun tala
s atau orang jawa menyebutnya dengan nama “lompong” ini biasa di masak dan di jadikaan sayuran ternyata kaya akan manfaat bagi kesehatan tubuh kita. Beberapa kandungan dari daun talas ini bermanfaat untuk kesehatan. Daun talas mengandung polifenol. Tangkai daun mengandung saponin.

Manfaat Tanaman Talas Di Kulit Tangkainya

Kulit tangkai bisa digunakan untuk membalut luka. cairan kulit tangkainya yang mengandung antibiotik alami membuat luka tidak mudah terinfesksi. Sifat dingin dari kulit tangkai talas ini juga bisa menjadi kompres ringan bagi luka yang cenderung bisa mengalami pembengkakan.

Cara Pakai: Potong Tangkainya sepanjang 30 cm lalu kupas sedalam 1-2mm, lap getahnya dengan kain karena bisa menyebabkan gatal. bila sudah bersih dari getah lalu balutkan di luka. sebelumnya luka di cuci bersih dengan sabun. setelah dibalut ikat dengan rapih. hal ini bisa menjadikan penolongan pertama pada luka.

2. Manfaat Daun Talas

Daun talas  mengandung protein, karbohidrat, lemak, kalsium, fosfor, zat besi. Ada juga beberapa vitamin pada daun ini yaitu vitamin A, B1, dan C. Selain itu Daun talas memiliki zat yang bernama polifenol, yang fungsi dari polifenol ada banyak jenisnya di antaranya : sebagai penangkal radikal bebas yang merusak fungsi sel- sel di dalam tubuh. Radikal bebas juga masih ada kaitanya dengan faktor utama kerusakan sel yang mempercepat penuaan.

Selain itu senyawa polifenol juga memperkuat system imun (kekebalan tubuh), melancarkan sirkulasi darah, anti tumor, mencegah tulang keropos, menyehatkan jantung dan membantu menurunkan berat badan.

3. Manfaat Rimpang Tanaman Talas

Rimpang dari tanaman Talas bisa dijadikan bubur akar rimpang talas,  secara traditional digunakan sebagai obat encok. Bisa juga digunakan mengatasi radang kelenjar limpa ringan. Talas secara umum biasa digunakan juga untuk mengobati tukak alat pencernaan, asma, dan ganguan bronchia.

Cara penggunaan: potong rimpang talas lalu diamkan dalam air garam selama 3 jam. setelah itu Kukus rimpang talas samapai matang. untuk pengobatan tukak lambung dan penyakit dalam lainnya, buat kukusan talas ini menjadi bubur. Bisa ditambahkan perasa gurih kaldu ayam atau manis. tergantung selera

4. Manfaat Tangkai Talas
Tangkai pada dun talas mengandung zat yang bernama saponin. Senyawa ini berfungsi menyingkirkan kolesterol dan antiseptik. Untuk itu biasanya orang menggunakan kulit dari bagian tangkai talas untuk membungkus luka. Selain menfaat tanaman talas di atas, pada bagian daun dan pelepah juga bisa di fungsikan sebagai obat gatal

Hati- Hati Menggunakan Daun Talas

Selain kaya manfaat , namun kamu harus berhati – hati menggunakannya. Karena getah batang talas ini dapat menimbulkan rasa gatal terhadap kulit kita. Namun tidak berbahaya hanya dengan mencuci dengan sabun dapat meredakan rasa gatal tersebut.




Sumber :familyherbal.net


Total Pengunjung

Pengunjung Aktip 👨‍💻



Download Play Store & SCANING here

YouTube

Kriteria Anda sukai dari surVive GIEZAG

Adventure Herbal Tradisi Pariwisata
Harga estimasi Website
• Rp 650.246.085 •
Diberdayakan oleh Blogger.
Silahkan rubah warna latar Web Kami sesuai keinginan Anda
MASUK ►►Wellcome to Sure my Live General Intelegency Zap Action Generation (SURVIVE GIEZAG) ~~ Extreme Adventure Service Team~~ Absolut Human Being ~~ Future Imagination Virtual Reality~~Team Penelusur tradisi, keindahan serta keunikan alam & kegiatan extreme

Testimonial ✍️

Makasih ya. Seru banget
Tina - Jakarta

Trims Kang Arief ❤️ You
Andini - Cimahi

Pantai Madasari indah, unik
Irgi - Medan

Outbond & Fun games nya Seru
Anis - Bandung

Thanks kang Sandi antar kami ke puncak Gn.Ciremai
David - Jakarta

Pantai Karapyak Pangandaran enjoy, seru banget
Shela - Bandung

Santirah Pangandaran SERU....
Sinta - Garut

Camping Ipukan Enjoy banget
Vina - Jakarta

Kampung Badud & Jembatan pelangi Pangandaran Unik
Indra - Tasikmalaya

Jojogan / Wonderhill Pangandaran punya Mantap
Pupung - Magelang

Pepedan Hill Indah & Mantap
Deni - Sumedang

Pantai Batuhiu mantap...
Shella - Semarang

Haturnuhun Kang Ali Gn.Salamet seru lho
Nadia - Bandung

Puas deh adventure disini,thanks lo!
Anita - Bandung

Mind managementnya mantap!
Tiara - Bandung

Gn.Semeru mantap, Thanks gan!
Matius Sinaga - Lampung

Gn.Ciremai seru banget
Ridwan - Bekasi

Pokonya seru, Amazing gmana?!
Susi - Cimahi

Thanks Gn.Ciremai mantap
Rian - Surabaya

Thanks!Green canyon Amazing
William - Singapore

TRIms Team surVive atas panduan wisata Kabupaten Pangandaran
Jacky - Depok

Haturnuhun kang Arief, Citumang seru!
Risna - Garut

TRIms surVive GIEZAG telah menemani kami ke Gn.Semeru. Salam lestari!
Tapak Adventure Club - Bandung Barat

Thanks!
Michael - Sydney

Thanks Bodyrafting Green canyon, extreme, enjoy dan seru
Santoso - Kudus

Seru banget Pantai Batukaras!
Sudrajat - Kuningan

エキサイティングなツアー。ありがとう Arief Pangandaran
Nakata-Osaka Japan

Amazing palace
Hiromi - Fukusima Japan

Mountainering Activity surVive GIEZAG

Beach & Ocean Activity surVive GIEZAG

Aerosport Activity surVive GIEZAG

Terpopuler Minggu ini 🏆

INFUT BUKU TAMU & BOOKING
Masukan pilihan Anda sesuai keinginan
Di Data Base Booking surVive GIEZAG
KONFIRMASI NO TIKET MASUK & KODE INVOICE
No Tiket
ID Reg
Masukan kode konfirmasi yang telah Kami kirim kepada animasi-bergerak-surat-0284 Anda. Berlaku 30 menit setelah daftar Buku Tamu

[Tutup]
animasi-bergerak-mendaki-0016
bell_subscribe
bell_subscribe
animasi-bergerak-selancar-air-0041