Senin, 24 Juli 2017

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR DIVISI HUTAN GUNUNG

BAB I

PENDAHULUAN

I.1.       Latar Belakang
Aktualisasi dari kegiatan kepencintaalaman, khususnya dalam kegiatan di gunung dan hutan selalu dikaitkan dengan kegiatan yang penuh dengan bahaya, keras, dan menuntut kekuatan fisik yang tangguh. Oleh karena itu, dalam melakukan kegiatan di gunung dan hutan, pelaku kegiatan kepencintaalaman diharuskan untuk berkegiatan sesuai dengan pedoman yang baku yang diharapkan dapat menjamin kelancaran kegiatan serta kenyamanan dan keselamatan pelaku kegiatan.

Sampai saat ini, Divisi Mountainering surVive GIEZAG sebagai organisasi yang berhaluan kepencintaalaman di surVive Explorer dari surVive GIEZAG tidak memiliki standar operasional tertulis yang digunakan secara baku oleh para anggotanya. Pedoman yang digunakan dalam berkegiatan selama ini hanya diberikan secara turun-temurun dari angkatan yang satu ke angkatan yang lainnya melalui komunikasi lisan. Seperti yang kita ketahui bahwa penyampaian pesan secara lisan memiliki risiko berubahnya isi pesan yang ingin disampaikan. Perubahan dapat berupa pengurangan maupun penambahan informasi. Perubahan – perubahan tersebut sebaiknya dihindari mengingat pentingnya materi yang terkandung dalam standar operasional ini. Oleh karena itu, perlu dibuat sebuah pedoman yang baku untuk melakukan kegiatan di gunung dan hutan serta dituangkan secara tertulis ke dalam sebuah Standar Operasional Prosedur Divisi Gunung Hutan / Mountainering

I.2.       Tujuan
Seluruh anggota surVive Explorer, khususnya bagi anggota Divisi Gunung Hutan / Mountainering, dapat mengerti bagaimana cara melakukan suatu kegiatan di gunung dan hutan yang baik dan aman.Menjadi pedoman dalam melakukan kegiatan di gunung dan hutan bagi seluruh anggota surVive Explorer, khususnya bagi anggota Divisi Gunung Hutan .Menciptakan komitmen bagi seluruh anggota surVive Explorer pada umumnya dan bagi anggota Divisi Gunung Hutan  pada khususnya mengenai apa yang harus dilakukan untuk mewujudkan suatu kegiatan di gunung dan hutan yang baik dan aman.Menjaga keutuhan informasi yang terkandung dalam Standar Operasional Prosedur Divisi Gunung Hutan surVive GIEZAG.

I.3.       Ruang Lingkup
Standar Operasional Prosedur ini hanya dapat digunakan untuk kepentingan kegiatan kepencintaalaman di gunung dan hutan. Gunung dan hutan yang dimaksud berada pada wilayah tropis dengan ketinggian kurang dari 4000 meter di atas permukaan laut serta memiliki medan yang tidak bersalju maupun bergletser.

 

BAB II

DIVISI GUNUNG HUTAN

II.1.     Divisi Gunung Hutan
Divisi Gunung Hutan merupakan salah satu divisi yang dimiliki oleh surVive Explorer. Divisi ini bergerak pada kegiatan kepencintaalaman di gunung dan hutan, termasuk di antaranya adalah kegiatan pendakian gunung, orientasi medan dan navigasi darat, search and rescue (SAR), serta eksplorasi gunung dan hutan rimba. Berbeda dengan divisi yang lainnya, dalam melakukan seluruh kegiatannya seluruh anggota Divisi Gunung Hutan dituntut untuk mampu bekerja sama dalam tim, memprioritaskan kepentingan kelompok, dan peka akan lingkungan di sekitarnya.

II.2.     Jenis – Jenis Gunung
Secara garis besar, gunung terbagi ke dalam dua jenis, yaitu gunung berapi atau gunung aktif dan gunung tidak aktif.

Berdasarkan bentuknya, gunung berapi terbagi ke dalam beberapa jenis yaitu

Stratovolcano

Gunung berapi tipe stratovolcano tersusun dari batuan hasil letusan dengan tipe letusan berubah-ubah, sehingga dapat menghasilkan susunan yang berlapis-lapis dari beberapa jenis batuan. Selain itu, tipe letusan tersebut juga memberikan bentuk suatu kerucut besar (raksasa) pada bagian puncak gunung, kadang-kadang bentuknya tidak beraturan karena letusan terjadi sudah beberapa ratus kali. Kebanyakan gunung tipe stratovolcano memiliki ketinggian lebih dari 2500 meter di atas permukaan laut. Contoh dari gunung jenis ini adalah Gunung Merapi.

Perisai

Gunung berapi tipe perisai tersusun dari batuan aliran lava yang pada saat diendapkan masih cair, sehingga tidak sempat membentuk suatu kerucut yang tinggi (curam). Bentukan dari gunung tipe ini akan berlereng landai dan susunannya terdiri dari batuan yang bersifat basaltik. Contoh dari gunung berapi jenis ini terdapat di Kepulauan Hawai.

Cinder Cone

Gunung berapi tipe cinder cone merupakan gunung berapi yang abu dan pecahan kecil batuan vulkaniknya menyebar di sekeliling gunung. Sebagian besar gunung jenis ini membentuk mangkuk di puncaknya. Gunung tipe ini jarang yang memiliki ketinggian di atas 500 meter dari tanah di sekitarnya.

Kaldera

Gunung berapi tipe kaldera terbentuk dari ledakan yang sangat kuat yang melempar ujung atas gunung sehingga membentuk cekungan. Contoh dari gunung berapi jenis ini adalah Gunung Bromo.

BAB III

HAL – HAL YANG HARUS DIPERHATIKAN DALAM PENDAKIAN GUNUNG

III.1.    Peralatan Pribadi

 Nama Peralatan
Jumlah
Keterangan
Carrier1 buah
Digunakan untuk membawa semua peralatan dan perlengkapan. Minimal volume 60 L. Penggunaan carrier sangat disarankan karena memilliki back system yang lebih baik, sehingga tidak menyebabkan sakit pada punggung.
Survival kit
1 setSebagai alat untuk bertahan hidup dalam kondisi tak terduga.
Logistik
(n+1) x kebutuhan harianMemenuhi kebutuhan makan dan minum serta sebagai sumber energi.Webbing1 buahPada kondisi tak terduga dapat digunakan sebagai alat pertolongan, misalnya ketika menemui jalur yang terlalu curam atau tebing dapat digunakan untuk mempermudah pendakian.Kotak P3K1 setSebagai pertolongan pertama pada kecelakaan.Trash bag1 buahMembungkus matras dan semua barang yang ada di dalam carrier serta sebagai tempat sampah.Sepatu+1 pasangMelindungi kaki. Gunakan sepatu dengan pola alas sol sepatu yang besar (ber-radial), bagian tumit tinggi ± 1,5 cm, dan sol kuat. Ukuran tidak terlalu sempit, dianjurkan menggunakan ukuran 1 size lebih besar dari ukuran kaki.Sleeping bag1 buahSebagai kantung tidur sekaligus penghangat ketika tidur.Ponco / jas hujan1 buahMelindungi tubuh dan carrier ketika hujan. Dapat juga digunakan sebagai alas tidur dan membuat bivak. Model kelelawarJaketMin. 1 buahMenghangatkan badan. Disarankan menggunakan jaket jenis tahan air dan/atau windprooCelana lapangan1 buahBukan berbahan jeans, sehingga mudah kering. Mudah menyerap keringat dan nyaman digunakan. Panjang semata kaki untuk melindungi dari semak duri dan binatang.Baju1 buahBerbahan yang mudah menyerap keringat.Kaus kakiMin. 2 pasangMenghangatkan kaki dan melindungi kaki dari lecet. Gunakan kaus kaki dengan bahan yang mudah menyerap keringat.Sarung tanganMin. 2 pasangMenghangatkan tangan dan melindungi tangan dari lecet.Baju gantiMin. 1 pasangJumlah menyesuaikan dengan lamanya pendakian.MaskerMin. 1 buahMelindungi dari debu, gas (belerang), kabut jenuh, dan hawa dingin.Penutup kepala (kupluk)1 buahMenghangatkan dan melindungi kepalaSenterMin.1 buahSebagai alat penerangan. Diusahakan senter dengan tenaga baterai. Headlamp lebih disarankan karena akan mengoptimalkan pergerakan.Baterai cadangan1 setBohlam cadangan1 buahPeralatan masak dan makan1 setPiring, gelas, sendok, pisauTisu kering1 bungkusTisu basah1 bungkusSandal jepit1 pasangGaiter1 pasangOptional. Untuk pendakian di daerah berpasir atau berawaPeralatan mandi1 setSabun, sikat gigi, pasta gigi, shampooAlat tulis1 setUntuk menulis catatan perjalanan dan hal-hal penting lainnya. Terdiri dari buku tulis dan pena.Kacamata1 buahOptional. Untuk melindungi mata dari debu. Digunakan pada medan berpasir dan berdebu.Topi1 buahOptional. Melindungi kepala dari panas.LilinMin.2 buahAlat penerangan, untuk membuat api unggun.Bahan bakar parafin1 kotakUntuk bahan bakar memasak dan membuat api unggun.Tali1 gulungPeralatan untuk mengikat, dapat digunakan untuk membuat bivak. Dapat berupa tali plastik (raffia) atau tali tampar.

 

Daftar isi Survival Kit :

Nama PeralatanFungsiPenitiUntuk menyambung dua buah ponco atau lebih ketika membuat bivakJarum jahitUntuk menjahit, baik kain maupun luka terbuka untuk sementaraBenang jahitUntuk menjahit, baik kain maupun luka terbuka untuk sementaraSenar pancingUntuk memancing, membuat jeratKail pancingUntuk memancing, dapat juga untuk menjahit lukakondomUntuk menampung air hujan maupun air embunSiletUntuk memotongKorek api kayuUntuk membuat apiLilinUntuk membuat api unggun dan sebagai sumber peneranganPeluitUntuk memanggil bantuanTembakauSebagai penawar ketika tergigit lintah

 

Daftar logistik harian:

1,5 liter air minum150 gSayurLauk-paukMakanan ringan (biskuit, roti)Sumber kalori instan (cokelat, gula merah, madu)1 bungkus mie instanKopi, susu, teh.

 

Daftar isi kotak P3K pribadi :

 

BetadineKapasKain kassaPerbanHansaplastRivanolObat alergi. Contoh : CTMObat maagParasetamolObat diareObat keracunan. Contoh : NoritOralitMinyak kayu putihSalep memarObat tetes mata

III.2.    Peralatan Kelompok

Nama PeralatanJumlahKeteranganDomeMenyesuaikanMelindungi dari panas, dingin, hujan, dan badai.NestingMenyesuaikanSebagai peralatan memasak. 1 set nesting per 4 orang.KomporMenyesuaikanSebagai peralatan memasak. Dapat berupa kompor gas, kompor parafin, atau kompor spiritus. Minimal 1 buah per 4 orang.Bahan bakarMenyesuaikanBahan bakar untuk memasak. Dapat berupa bahan bakar gas, parafin atau spiritus. Gunakan minimal dua jenis bahan bakar untuk mengantisipasi keadaan ketika salah satu bahan bakar tidak dapat digunakan. Jumlah kebutuhan menyesuaikan dengan banyaknya anggota tim dan lamanya waktu pendakian.Misalnya untuk bahan bakar gas, kurang lebih 2 tabung gas per 1 hari per 4 orang.Parang1 buahDigunakan untuk membersihkan jalur, menebas ranting, dan memotong kayu.Kotak P3K1 setSebagai peralatan pertolongan pertama pada kecelakaan.Perlengkapan navigasiMin. 2 setDigunakan untuk melakukan orientasi medan, menentukan arah dan posisi.

 

Daftar isi kotak P3K kelompok :

 

Isi sama seperti kotak P3K pribadi, dengan tambahan :

Minimal 1 tabung untuk 3 orang.Mitela (segitiga dan persegi panjang).

Daftar perlengkapan navigasi :

Peta konturKompasProtaktorAltimeter (optional)

  

III.3.    Peralatan Tambahan

 

III.3.1. Peralatan Tambahan untuk Ekspedisi

 

Dalam melakukan sebuah ekspedisi, realisasi dari sebuah perjalanan tidak selalu sejalan dengan rencana perjalanan yang telah dibuat. Terkadang akan ditemui medan dan kondisi sulit, sehingga diperlukan beberapa peralatan tambahan.  Peralatan tambahan tersebut, yaitu :

 

III.3.1.1. Perlengkapan navigasi

Perlengkapan navigasi digunakan untuk melakukan orientasi medan, menentukan arah dan posisi. Perlengkapan navigasi terdiri dari:

 

Peta konturKompasProtaktorAltimeter (optional)

 

III.3.1.2.Hauling set

Hauling set digunakan untuk melakukan transfer peralatan secara horizontal maupun vertikal pada medan sulit. Hauling set terdiri dari:

2 buah karnmantel statis masing-masing minimal sepanjang 100 m5 buah carabiner oval screw1 buah croll2 buah ascender3 buah pulley1 buah footloopwebbing (jumlah menyesuaikan)dan padding (jumlah menyesuaikan)

 

III.3.1.3.SRT (Single Rope Technique) set

SRT set digunakan untuk melakukan pergerakan vertikal pada medan sulit. SRT set terdiri dari

1 karnmantel statis minimal sepanjang 100 m1 buah chest1 buah ascender1 buah descender1 buah croll1 buah carabiner half moon1 buah carabiner MR1 buah carabiner avernue4 buah carabiner oval screw1 buah carabiner non screw2 buah webbing1 buah footloop1 buah harness SRTPadding (jumlah menyesuaikan)

 

III.3.1.4.Perlengkapan Pemanjatan

Perlengkapan pemanjatan digunakan untuk melakukan pemanjatan ketika menemui medan vertikal (tebing) yang cukup tinggi dan sulit, sehingga memerlukan teknik pemanjatan.

Perlengkapan pemanjatan terdiri dari :

1 buah karnmantel dinamis2 buah harness panjat1 buah carabiner half moon1 buah figure of eight2 buah carabiner oval screwRunner (jumlah menyesuaikan)Sling prusik dan webbing (jumlah menyesuaikan)Pengaman sisip (jumlah menyesuaikan)Padding (jumlah menyesuaikan)

 

III.3.2. Peralatan Tambahan untuk Kegiatan Lainnya

 

Kegiatan lain yang dimaksudkan dalam konteks ini yaitu berupa kegiatan khusus untuk evakuasi dan pencarian korban seperti halnya yang dilakukan dalam kegiatan SAR (Search and Rescue). Kegiatan lain tersebut memerlukan beberapa peralatan tambahan, yaitu :

 

II.3.2.1.  Hauling set

Hauling set digunakan untuk melakukan transfer korban secara horizontal maupun vertikal pada medan sulit. Hauling set terdiri dari:

2 buah karnmantel statis masing-masing minimal sepanjang 100 m5 buah carabiner oval screw1 buah croll2 buah ascender3 buah pulley1 buah footloopwebbing (jumlah menyesuaikan)padding (jumlah menyesuaikan)

 

III.3.2.2. SRT (Single Rope Technique) set

SRT set digunakan untuk melakukan pergerakan vertikal pada medan sulit. SRT set terdiri dari

1 karnmantel statis minimal sepanjang 100 m1 buah chest1 buah ascender1 buah descender1 buah croll1 buah carabiner half moon1 buah carabiner MR1 buah carabiner avernue4 buah carabiner oval screw1 buah carabiner non screw2 buah webbing1 buah footloop1 buah harness SRTPadding (jumlah menyesuaikan)

 

 

 

III.3.2.3. Dragbar

Dragbar digunakan untuk mengevakuasi korban menuju tempat yang lebih aman. Prosedur penggunaan dragbar yaitu dilakukan oleh empat orang dengan tinggi badan yang sama, pergerakan satu arah di bawah satu komando, korban dapat dipindahkan dengan cara menempatkan dragbar di bahu atau digotong setinggi pinggang. Dragbar dapat berupa dragbar lipat atau dragbar alam yang dibuat secara manual di lapangan menggunakan batang-batang pohon.

 

III.3.2.4. Marker

Marker digunakan sebagai penanda lokasi penemuan benda yang diduga adalah milik korban.

 

III.4.    Teknis Pendakian

 

Teknis pendakian dibagi ke dalam dua bagian, yaitu

 

III.4.1. Persiapan Sebelum Pendakian

Sebelum melakukan pendakian, perlu dilakukan beberapa persiapan yang bertujuan untuk mendukung pelaksanaan pendakian sehingga berjalan dengan  lancar dan aman. Persiapan-persiapan tersebut yaitu

Pengumpulan data tentang medan yang akan dihadapi

Sebelum melakukan pendakian perlu diketahui data – data tentang medan yang akan dihadapi. Data-data tersebut di antaranya status aktivitas gunung, keberadaan sumber air, suhu, kondisi jalur yang akan digunakan, cuaca, lokasi yang aman untuk mendirikan tenda, dan kebudayaan masyarakat setempat.

Penentuan tujuan pendakian

Tujuan pendakian perlu ditentukan sebelumnya, apakah pendakian tersebut ditujukan untuk latihan, wisata, SAR, ekspedisi, atau tujuan yang lainnya. Dengan menentukan tujuan perjalanan, maka dapat ditentukan bagaimana persiapan fisik yang harus dilakukan, peralatan dan logistik yang harus dipersiapkan, serta manajemen perjalanan yang akan dilakukan.

 

Persiapan fisik

Pendakian gunung termasuk ke dalam salah satu olaharaga berat yang menuntut fisik yang prima. Untuk mendukung hal tersebut, maka diperlukan persiapan fisik yang memadai. Persiapan fisik yang baik akan menunjang kelancaran kegiatan pendakian dan menghindarkan anggota pendakian dari cedera fisik. Persiapan fisik tersebut dapat berupa jogging, push-up dan vertical running. Persiapan fisik ini dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing individu dan medan yang akan ditempuh.

Persiapan mental

Mental adalah kondisi psikologis dari diri seseorang. Persiapan mental yang buruk sebelum melakukan kegiatan gunung-hutan akan mengakibatkan terganggunya kelancaran kegiatan tersebut.

Persiapan peralatan dan logistik

Peralatan dan logistik yang akan dibawa dalam pendakian disesuaikan dengan tujuan dari pendakian tersebut, medan yang akan dihadapi, dan lamanya waktu pendakian.

Setiap peserta kegiatan pendakian diharuskan untuk mengisi checklist peralatan pribadi, sedangkan pemimpin kegiatan pendakian diharuskan untuk mengumpulkan serta menyimpan checklist perlengkapan kelompok dan checklist perlengkapan pribadi seluruh peserta kegiatan pendakian. Checklist peralatan ini akan menjadi kartu kontrol yang dapat digunakan oleh pemimpin kegiatan pendakian untuk mengecek kelengkapan peralatan, mengevaluasi kesiapan anggota tim untuk melakukan survival dalam keadaan terburuk, dan memperkirakan batas waktu anggota tim untuk bertahan dalam survival tersebut.

Rencana manajemen perjalanan

Untuk melakukan pendakian yang baik dan aman, maka diperlukan suatu perencanaan yang matang tentang manajemen perjalanan yang akan digunakan. Manajemen perjalanan tersebut meliputi pembagian tugas, manajemen logistik dan manajemen waktu.

Pembagian tugas terbagi ke dalam dua bagian, yaitu pembagian tugas ketika berjalan dan ketika melakukan camping. Pembagian tugas ketika berjalan meliputi leader dan sweeper. Leader bertugas untuk memimpin jalannya pendakian, menentukan arah berjalan, menjalankan fungsi time keeper, serta menjadi pusat pengambilan keputusan. Sweeper bertugas untuk memastikan keutuhan komposisi tim (baik dari segi jumlah dan posisi), memastikan kondisi seluruh anggota tim, dan berkoordinasi dengan leader terkait dengan kondisi seluruh anggota tim tersebut. Sedangkan untuk pembagian tugas ketika melakukan camping meliputi tugas mendirikan dome, memasak, mencari air, dan mencari kayu bakar.

Administrasi

Setiap daerah berada di bawah kendali suatu pihak, misalnya Pemda atau Perhutani, sehingga untuk melakukan kegiatan gunung-hutan pada daerah tersebut diperlukan izin. Untuk keperluan mengurus izin tersebut biasanya diperlukan beberapa syarat seperti fotokopi KTP, meterai, dan surat jalan dari organisasi.

Mengisi lembar kendali operasional

Lembar kendali operasional berfungsi sebagai kartu kontrol bagi seluruh pengurus Gitapala terhadap kegiatan gunung-hutan yang sedang berlangsung tersebut. Lembar kendali operasional diisi oleh pemimpin kegiatan dan ditempelkan pada papan pengumuman Gitapala.

Melakukan briefing

Briefing dilakukan selambat-lambatnya satu hari sebelum hari pelaksanaan kegiatan gunung-hutan. Briefing dipimpin oleh pemimpin kegiatan dan dihadiri oleh seluruh anggota tim kegiatan gunung-hutan tersebut, Koordinator Divisi Gunung Hutan, Kepala Bidang Operasional, dan Ketua Umum Gitapala.

 

 

III.4.2. Pelaksanaan Pendakian

Dalam melaksanakan suatu pendakian, terdapat beberapa hal yang harus dilakukan dan diperhatikan yaitu

Melakukan aklimatisasi minimal selama satu jam.

Kegiatan ini ditujukan untuk memberikan kesempatan bagi tubuh beradaptasi dengan kondisi di ketinggian. Kondisi yang dimaksudkan tersebut di antaranya terkait dengan kondisi suhu, kelembaban udara, dan tekanan udara.

Bergerak sesuai dengan kesepakatan komposisi tim.

Anggota tim yang dirasa kurang mempersiapkan fisik sehingga memiliki fisik yang lebih lemah diposisikan di urutan depan pada barisan setelah leader. Leader diposisikan pada urutan paling depan dari barisan dan sweeper di urutan paling belakang.

Leader dan sweeper sebaiknya laki-laki.

Laki-laki biasanya akan lebih tenang di dalam menghadapi kondisi sulit. Tetapi hal ini tidak menutup kemungkinan untuk menunjuk perempuan sebagai leader atau sweeper apabila dirasa mampu untuk melakukan tugas tersebut selama pendakian berlangsung.

Anggota tim bergerak menurut komando dari leader.Leader memutuskan setiap pergerakan berdasarkan kondisi tim dan kondisi yang ada di medan.Sweeper memastikan keutuhan dan kondisi seluruh anggota tim selama di perjalanan dan berkoordinasi dengan leader.Berjalan dengan kecepatan yang konsisten serta tidak terlalu cepat atau terlalu lambat.Memperhatikan langkah supaya tidak terlalu menghentak atau menyeret. Langkah kaki yang menghentak atau menyeret justru akan membutuhkan energy ekstra. Oleh karena itu, tetap berjalan dengan langkah kaki mantap namun tetap menapak ringan pada permukaan tanah.Tidak berlari ketika menemui jalan yang menurun

Berlari akan membutuhkan energy ekstra dibandingkan dengan berjalan. Selain itu, berlari memiliki potensi bahaya kaki terkilir dan kaki tersandung batu atau akar pohon.

Apabila terpaksa untuk berhenti di daerah tanjakan, salah satu kaki diposisikan berada di depan kaki yang lainnya dengan posisi lebih tinggi.

Posisi tersebut selain memberikan keseimbangan pada tubuh juga akan menghemat energy tubuh ketika akan kembali melangkahkan kaki.

Memperhatikan jarak antar anggota tim.

Hal ini harus dilakukan dengan lebih intens terutama ketika melakukan pendakian pada malam hari dan/atau kondisi berkabut.

Memperhatikan kondisi sekitar.

Hal-hal yang perlu diperhatikan yaitu pergerakan awan, pergerakan kabut, pergerakan angin, suhu, keberadaan satwa dan fauna, serta kondisi jalur pendakian.

Saling memperhatikan kondisi antar anggota tim.

Memiliki rasa kebersamaan dan saling memiliki antar anggota pendakian akan sangat memberikan efek yang positif bagi jalannya suatu pendakian. Oleh karena itu, mengecek secara berkala kondisi fisik dan saling memberikan semangat antar anggota sangat penting untuk dilakukan.

Disiplin terhadap waktu.Diusahakan untuk minum dalam jumlah secukupnya dan dalam interval waktu yang panjang.Bernafas menggunakan hidung. Ritme bernafas perlu diperhatikan agar tidak terlalu cepat dan memburu.Waktu untuk istirahat tidak boleh terlalu lama, maksimal 5 menit. Waktu istirahat yang terlalu lama akan memberikan kesempatan bagi tubuh untuk melemaskan kembali otot-otot tubuh dan menormalkan denyut jantung, sehingga ketika akan melakukan perjalanan kembali tubuh akan kaget dan memerlukan waktu lama untuk melakukan adaptasi kembali. Istirahat yang terlalu lama biasanya akan memicu terjadinya kram otot pada kaki dan bahu.Tetap berdiri ketika istirahat.

Istirahat selama pendakian dapat dilakukan dengan tetap berdiri namun posisi badan membungkuk membentuk huruf L atau juga dilakukan dengan bersandar pada batang pohon. Posisi istirahat dengan membentuk huruf L akan membantu mengistirahatkan bahu karena bobot carrier untuk sementara waktu dipindahkan ke punggung. Duduk ketika istirahat sangat tidak disarankan.

Memperhatikan penggunaan jaket.

Apabila selama berjalan menggunakan jaket, maka ketika beristirahat atau sudah tiba di tujuan, jaket sebaiknya tidak langsung dilepas. Perubahan suhu yang mendadak akan memicu pada terjadinya kehilangan panas tubuh (hypothermia).

 BAB IV

BAHAYA, PENCEGAHAN BAHAYA, DAN PERTOLONGAN PERTAMA PADA KECELAKAAN DALAM PENDAKIAN GUNUNG

 

Pendakian gunung adalah suatu kegiatan yang memiliki risiko tinggi. Bahaya, baik yang berasal dari internal maupun eksternal dari diri pendaki, akan selalu ada dan apabila pendaki tidak memiliki kemampuan yang cukup akan bahaya tersebut maka kegiatan pendakian gunung akan menjadi suatu kegiatan yang dihindari.

 

IV.1.    Bahaya dalam Pendakian Gunung

 

Apabila dikelompokkan, berbagai jenis bahaya dalam kegiatan gunung-hutan dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok besar, yaitu bahaya obyektif dan bahaya subyektif.

 

IV.1.1. Bahaya Obyektif

Bahaya obyektif merupakan segala bentuk bahaya dan potensi bahaya yang berasal dari alam dan segala sesuatu yang berada di alam. Factor-faktor yang dapat menimbulkan bahaya obyektif di antaranya yaitu

Kondisi bentuk permukaan bumiBentuk-bentuk kehidupan

Bentuk kehidupan hewan mulai dari level mikroorganisme hingga binatang-binatang besar memiliki potensi bahayanya masing-masing. Secara umum, potensi bahaya tersebut yaitu

menimbulkan penyakitmenularkan penyakitberacun bila menyengat, bersentuhan atau menggigitberacun bila dimakanberbahaya bila menyerang (terkait dengan ukuran hewan tersebut)sifat predator hewan tersebutmengeluarkan zat kimia yang membuat rasa tidak nyaman

Sedangkan untuk bentuk kehidupan tumbuhan, potensi bahaya yang dimiliki antara lain

kerapatan vegetasi dapat menghambat pergerakan dan mencederaikerapatan vegetasi memperpendek jarak pandang dan keleluasaan dalam melakukan orientasi medanmemiliki duri-duri atau getah beracun yang dapat mencederaimengandung racun sehingga berbahaya bila dikonsumsiIklim dan cuaca

Potensi bahaya dari iklim mungkin masih dapat dihindari karena iklim merupakan karakter dari suatu daerah yang pengulangannya selalu sama setiap tahunnya, sehingga tindakan preventif seharusnya sudah dilakukan oleh pendaki sebelum melakukan kegiatan di daerah tersebut.

Tetapi cuaca adalah kondisi yang berkaitan dengan suhu udara, kelembaban, dan pergerakan udara yang sifatnya selalu berubah sewaktu-waktu. Potensi bahaya yang dapat ditimbulkan dari ketiga hal tersebut yaitu

Suhu udara tinggi dapat menyebabkan penyakit Heatstroke dan SunstrokeSuhu udara rendah dapat menyebabkan penyakit Hypothermia apabila kondisi tersebut berkombinasi dengan pakaian yang basah dan pergerakan udara yang cukup cepat .Angin besar yang mampu mematahkan batang-batang pepohonan dan merusak dome.Curah hujan tinggiBadai

Semakin tinggi suatu tempat berarti tekanan udara semakin rendah dan kandungan oksigen pada udara semakin tipis. Kondisi ini terkadang mampu menggagalkan system adapatasi tubuh, sehingga mampu menimbulkan Mountain Sickness.

Besaran jarak dan waktu

Semakin panjang jarak dan lama waktu pendakian menuntut rencana perjalanan yang sangat matang. Rencana perjalanan akan semakin rumit karena banyak hal harus dipertimbangkan dengan sebaik mungkin. Semakin rumit suatu rencana perjalanan,  maka akan semakin besar faktor kesalahan yang terjadi. Faktor kesalahan inilah yang mampu  menjadi potensi bahaya.

Gas beracun

Gunung yang masih aktif biasanya akan mengeluarkan gas beracun pada waktu-waktu tertentu dan pada area-area tertentu pada gunung tersebut.

Kondisi sosial budaya

Kesalahan dalam menghargai adat-istiadat dan kepercayaan tertentu dari masyarakat setempat dapat menimbulkan kesalahpahaman. Kesalahpahaman ini akan memicu rasa tidak suka dan penolakan terhadap kehadiran kita di lingkungan tersebut yang tidak jarang dapat menimbulkan potensi bahaya tertentu.

 

IV.1.2. Bahaya Subyektif

Bahaya subyektif merupakan segala bentuk bahaya dan potensi bahaya yang berasal dari diri pendaki, baik karena perilaku atau pengambilan keputusan yang salah sebelum maupun ketika pelaksanaan kegiatan di gunung dan hutan. Faktor – faktor yang dapat menimbulkan bahaya subyektif di antaranya yaitu

Kondisi fisik

Kegiatan gunung-hutan termasuk ke dalam olahraga berat yang menuntut kebugaran tubuh terutama yang terkait dengan sistem peredaran darah, metabolisme tubuh, daya tahan tubuh, serta kemampuan tubuh beradaptasi pada cuaca. Kegiatan gunung-hutan terkadang juga menciptakan siklus kehidupan baru yang tidak teratur dan jauh berbeda dari siklus kehidupan yang biasanya kita jalani. Semua faktor tersebut berpotensi menjadi potensi bahaya apabila kebugaran tubuh tidak dapat memenuhi kebutuhan tubuh untuk menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan tersebut.

Kondisi kemampuan teknis

Berkegiatan di gunung dan hutan menuntut keterampilan untuk dapat bergerak maupun beristirahat dengan efektif dan efisien. Tidak mendukungnya kemampuan teknis pelaku kegiatan akan menimbulkan sebentuk potensi bahaya tersendiri.

Kondisi kemampuan kemanusiaan (human skills)

Kemampuan yang dimaksud dalam konteks ini di antaranya adalah kemampuan mengambil keputusan, kecermatan, pengendalian emosi, dan kestabilan mental. Kesalahan dalam pengelolaan kemampuan ini akan dapat berkembang menjadi potensi bahaya.

 

IV.2.    Pencegahan Bahaya dalam Pendakian Gunung

 

Tindakan pencegahan bahaya dalam pendakian gunung pada umumnya dapat diupayakan melalui hal-hal berikut ini

Melaksanakan semua poin yang tercantum dalam sub bab III.4.1. Persiapan Sebelum PendakianMembekali diri dengan kemampuan teknis yang memadaiMelaksanakan semua poin yang tercantum dalam sub bab III.4.2. Pelaksanaan Pendakian.Selalu berdoa dan waspada.

 

IV.3.    Pertolongan Pertama pada Kecelakaan dalam Pendakian Gunung

Jenis KecelakaanTindakan Pertolongan PertamaPerdarahanMenekan pada tempat terjadinya perdarahan dengan menggunakan kain bersihMengaplikasikan rivanol dan diikuti dengan povidone iodine pada tempat terjadinya perdarahan setelah perdarahan selesaiMenutup luka dengan menggunakan kasa steril dan perbanSystem pernafasan berhenti mendadakResusitasi Jantung dan ParuPatah tulang (fraktur)Immobilisasi dengan pembidaianHypothermiaMelepaskan semua pakaian basah korban dan menggantinya dengan yang keringMemasukkan korban ke dalam sleeping bag dengan ditemani satu atau dua orang lain di dalam sleeping bag tersebutMemberikan minuman hangatTerus mengajak berbicara korbanKondisikan agar korban dalam keadaan sehangat mungkinHeatsrokeMengurangi aktivitasMinum banyak air putihMengurangi ketebalan pakaianKeracunanMenohok anak tekak untuk mengeluarkan sisa makanan yang masih terdapat di lambungMinum teh pekat dan/atau susuTersengat lebahOleskan air bawang merah pada luka berkali-kaliTempelkan tanah basah/liat di atas lukaJangan dipijit-pijitTempelkan pecahan genting panas di atas lukaTergigit lintahTeteskan air tembakau pada lintahTaburkan garam di atas dan sekitar lintahTeteskan sari jeruk mentah pada lintahKalajengking dan lipanMemijat daerah di sekitar luka sampai racun keluarMengikat tubuh di sebelah pangkal yang digigitMenempelkan asam yang dilumatkan di atas lukaMenaburkan garam di sekeliling bivak untuk pencegahanTergigit ularMengurangi pergerakanMembersihkan luka dan mengaplikasikan TorniquetMemberikan obat penawar bisa (bila ada)Mengusahakan agar korban selalu terjagaMembatasi aliran darah dari lokasi luka ke jantung dengan cara membebat.

 

BAB V

KESIMPULAN

 

Keselamatan pelaku kegiatan adalah prioritas utama dalam melakukan kegiatan di gunung dan hutan. Oleh karena itu, penggunaan Standar Operasional Prosedur Divisi Gunung Hutan GITAPALA sebagai pedoman berkegiatan mutlak diperlukan dalam setiap kegiatan gunung dan hutan. Komitmen untuk terus menggunakan pedoman tersebut dan menjaga keutuhan isinya dalam setiap pelaksanaan kegiatan perlu dimiliki oleh setiap anggota GITAPALA.

 

 

 

 

 

 

LAMPIRAN

 

LEMBAR KENDALI OPERASIONALDIVISI GUNUNG HUTAN

GITAPALANama Kegiatan Tanggal Pelaksanaan Kegiatan Lokasi Kegiatan Koordinator Kegiatan Anggota Pelaksana Kegiatan No. Telepon yang Bisa Dihubungi  Mengetahui,Koordinator Divisi Gunung Hutan

 

 

(                       )

 

 

Checklist Perlengkapan Kelompok

 

Nama kegiatan                    :

Tanggal pelaksanaan         :

 

Checklist perlengkapan pribadi anggota                        (               )

Dome                                                                                     (               )

Nesting                                                                                   (               )

Kompor                                                                                 (               )

Bahan bakar (gas dan parafin)                                        (               )

Kotak P3K                                                                            (               )

Oxycan                                                                                  (               )

Perlengkapan tambahan lain :

………………………………………..                             (               )

………………………………………..                             (               )

………………………………………..                             (               )

………………………………………..                             (               )

………………………………………..                             (               )

………………………………………..                             (               )

………………………………………..                             (               )

………………………………………..                             (               )

 

 

 

 

Mengetahui,

Kepala Divisi Hutan Gunung

               

                                               

 

                                                                                (                                               )

 

 

DIVISI Mountainering
surVive Explorer
surVive GIEZAG

 

 

 

Checklist Perlengkapan Pribadi

Nama kegiatan                    :

Tanggal pelaksanaan         :

 

Carrier min.60 L                                  (               )

Matras                                                   (               )

Trashbag                                               (               )

Survival kit                                           (               )

Kotak P3K                                            (               )

Sleeping bag                                         (               )

Ponco                                                     (               )

Sepatu                                                   (               )

Jaket waterproof                                 (               )

Pakaian ganti                                       (               )

Kaos kaki                                              (               )

Sarung tangan                                      (               )

Parang / pisau lipat                             (               )

Webbing                                                (               )

Senter                                                     (               )

Baterai cadangan                                                (               )

Bohlam cadangan                                              (               )

Peralatan makan                                 (               )

Air minum                                             (               )

Mie instant                                            (               )

Biskuit                                                   (               )

Coklat                                                    (               )

Lilin                                                        (               )

Logistik lain (sebutkan)                      (                                                               )

 

                                          







sumber : http://www.gitapala.tp.ugm.ac.id/standar-operasional-prosedur-divisi-hutan-gunung/

PENGENALAN GUNUNG HUTAN

Mountaineering berasal dari kata “mountain” yang berarti gunung. Sedangkan mountaineering adalah kegiatan mendaki gunung yang terdiri dari tiga tahap kegiatan, yaitu : 
Hill Walking. Merupakan perjalan pendakian bukit-bukit yang landai tidak mempergunakan peralatan dan teknis khusus pendakian.Scrambling. Merupakan pendakian pada tebing batu yang tidak terlalu terjal. Tangan hanya digunakan sebagai keseimbanan.3.Climbing. Merupakan pendakian yang membutuhkanpenguasaan teknik pendakian. Bentuk pendakian :Rock Climbing, yaitu pendakian pada tebing batuSnow Ice Climbing, yaitu pendakian pada es dan batu

Sering timbul pertanyaanya “kenapa sih suka naik gunung ?”. menurut saya adalah “kepuasan, saudara baru, Samudra awan, Puncak, Sunset dan Eidelweis” karena setiap manusia mempunyai kebutuhan psikologis serta kebutuhan rasa ingin tau. Soe hook Gie (Mapala UI) menulis dalam puisi “aku cinta pangranggo; karena aku mencintai kebenaran hidup” . dia tewas tercekik gas beracun di puncak Mahamerutanggal 16 Desember 1969.  Tapi sebagai pencinta alam apakah kita memperhatikan Reduce, Reuse, Recycle dan Repair. Sekarang mendaki gunung banyak di minati banyak orang. Dan tak jarang pula mereka mengabaikan keselamatan dalam perjalanan pendakian. Yang paling dasar tak hanya bekal tapi peralatan yang safety serta pengetahuan dan penguasaan jalur itu sangat di perlukan. Belajar lebih lanjut ke Aldakawanaseta;

Mountaineering (Gunung Hutan) Aldakawanaseta

Salah satu divisi yang ada di Mapala UDINUS, yang di koordinatori oleh KADIV Gunung Hutan. Di sini kita diajarkan materi-materi tentang kegununghutanan, meliputi ; Navigasi, Survival, SAR dan PPGD dan etika sebagai seorang mapala. kita harus mempunyai prinsip dasar yaitu :

Take nothing but picture, Leave nothing but footprint, Kill nothing but time

Dan materi-materi ini harus di kuasai oleh sesorang yang ingin menjadi anggota Aldakawanaseta. Yang tentunya ada syarat utama yaitu Pendidikan Dasar. Tak hanya itu Gunung hutan juga menjadi Prasyarat kita menjadi anggota penuh. Yaitu kita harus melakoni Pengembaraan 3 Divisi salah satunya Gunung Hutan.

        A.      Navigasi

Kompas, GPS, dan Peta adalah alat yang digunakan bernavigasi, orang awam pasti tidak begitu mengerti cara menggunakannya, seperti  “menembak kompas kemudian kita plot di peta, mencari posisi kita di peta atau mencari suatu bukit di peta”. Banyak orang bilang “ngapain kita navigasi ? kan jalur kepuncak sudah ada” . itu adalah  Paradikma yang salah, bagaimana jika kita tersesat ? bagaimana kalau tidak ada orang yang kita tanya?. Di pendidikan dasar kita diajarkan dasar dari navigasi. Kita diajarkan hanya memakai kompas belum memakai GPS, karena GPS adalah cara instan menemukan titik koordinat. Ini adalah cara menggunakan kompas Lihat gambar A.1 dan cara pengaplikasian sudut kompas ke peta lihat gambar A.2

                      Gambar A.1

                                                                      Gambar A.2

         B.      SURVIVAL

Bagaimana jika tersesat ? bagaimana cara mengatasi musibah di hutan ? .  timbulnya kebutuhan survival karena adanya usaha kita keluar dari kesulitan yang dihadapi. Kesulitan-kesulitan tersebut antara lain : Medan dan cuaca yang kita Hadapi, keadaan makhluk hidup di sekitar kita (Binatang dan Tumbuhan), serta diri kita secara fisik dan mental. Dan perlu ditekankan jika tersesat adalah STOP  :   
Stop dan Seating/ berhenti dan duduklahThingking/berpikirObserve/amati keadaan sekitarPlanning/buat rencana yang harus dilakukanDi materi gunung hutan survival sangat ditekankan agar mengetahui cara survival individu ataupun kelompok. Berikut adalah bahan-bahan survival gambar B.1 

                                                              Gambar B.1

Di Aldakawanaseta juga di ajarkan materi bivoack alam serta buatan agar lebih mendalami survival murni. Tujuan bivoack adalah untuk melindungi tubuh dari panas, angin, dingin dan binatang buas.Seperti gambar B.2

                                                             Gambar B.2

         C.      SAR dan PPGD

Seorang pendaki harus mengetahui dasar SAR dan PPGD, sehingga ketika ada musibah kita bisa langsung bertindak dengan cepat. Aldakawanaseta juga sering berpartisipasi dalam kegiatan ini. Pernah diadakan latihan SAR 3 Divisi tahun 2011 demi menunjang kemampuan dan materi yang cukup. Kita mendapatkan materi vertikal Rescue dan SAR Air. Di pendidikankan dasar kita juga menerapkan simulasi kejadian bencana. Seperti gambar pada Gambar C.1 dan Gambar C.2

                                                                         Gambar C.1

                                                                          Gambar C.2

SEJARAH SINGKAT GUNUNG HUTAN / MOUNTAINEERING

       Pendakian gunung sebenarnya telah dilakukan oleh para nenek moyang kita yang dimulai dengan bapak manuasia Nabi Adam AS yang menjelajahi bukit tursina untuk mencari cintanya Siti Hawa. Siti Hajar yang telah lintas dari bukit marwah ke bukit Safa ditemani dengan sherpa JIBRIL untuk mencari air bagi ismail yang lagi kehausan. Dan pendakian demi pendakian hingga saat ini masih terus berlangsung dan kelak (tak lama lagi ) giliran kalian untuk melanjutkan amanah menjaga kelanggengan kemanusian.

Sejarah Dunia

1942 : Anthoine de Ville memanjat tebing Mont Aiguille (2907 m) di pegunungan alpen untuk berburu chamois (Kambing gunung)

1624 : Pastor pastor Jesuit, melintasi pegunungan himalaya dari gharwal di Iindia ke Tibet menjalankan tugas misionarisnya

1760 : Professoe de Saussure menawarkan hadiah besar bagi siapa saja yang dapat menaklukkan puncak mont blanc guna kepentingan ilmiahnya.

1786 : Puncak tertinggi di pegunungan alpen Mont Blanc (4807 m) akhirnya dicapai oleh Dr. Michel Paccaro dan Jacquet Balmat.

1852 : Batu pertama jaman keemasan dunia keemasan di Alpen diletakkan oleh Alfred Wills dalam pendakiannya ke puncak Wetterhorn (3.708 m), cikal bakal pendakian gunung sebagai olah raga.

1852 : Sir George Everest, akhirnya menentukan ketinggian puncak tertinggi dunia, dan di abadikan dengan namanya (8.848 m), orang Nepal menyebut puncak ini dengan nama sagarmatha, orang tibet menyebutnya chomolungma.

1878 : Clinton Dent (bukan pepsoden) memnjat tebing Aigullie de dru di perancis yang memicu trend pemanjatan tebing yang tidak terlalu tinggi tetapi cukup curam dan sulit, banyak orang menganggap peristiwa ini adalah kelahiran panjat tebing

1895 : AF Mummery orang yang disebut sebagai bapak pendakian gunung modern hilang di Nanga Parbat (8.125 m), pendakian ini adalah pendakian pertama puncak di atas ketinggian 8.000 m

1924 : Mallory dan Irvina mencoba lagi mendaki Everest, keduanya hilang di ketinggian sekitar 8.400 m

1953 : Pada tanggal 29 mei Sir Edmund Hillary dan Sherpa Tenzing Norgay akhirnya mencapai atap dunia puncak everest.

Sejarah Indonesia

1623 : Yan Carstenz adalah orang pertama melihat adanya pegunungan sangat tinggi, dan tertutup salju di pedalaman irian

1899 : Ekspedisi Belanda pembuat peta di Irian menemukan kebenaran laporan Yan Carstensz hampir 3 abad sebelumnya tentang “ … pegunungan yang sangat tinggi, di beberapa tempat tertutup salju!” di perdalaman Irian. Maka namanya diabadikan sebagai nama puncak yang kemudian ternyata merupakan puncak gunung tertinggi di Indonesia.

1962 : Puncak Carstenz akhirnya berhasil dicapai oleh tim pimpinan Heinrich Harrer.

1964 : Beberapa pendaki Jepang dan 3 orang Indonesia, yaitu Fred Athaboe, Sudarto dan Sugirin, yang tergabung dalam Ekspedisi Cendrawasih, berhasil mencapai Puncak Jaya di Irian. Puncak yang berhasil didaki itu sempat dianggap Puncak Carstensz, sebelum kemudian dibuktikan salah.

Puncak Eidenburg, juga di Irian, berhasil di daki oleh ekspedisi yang dipimpin Philip Temple.

Dua perkumpulan pendaki gunung tertua di Indonesia lahir : Wanadri di Bandung dan Mapala UI di Jakarta, lalu di susul oleh perkumpulan perhimpunan pencinta alam lainnya mulai dari, MPA,SISPALA, KPA, ERNIPALA, MODIPALA dan sebagainya

1972 : Mapala UI, diantaranya adalah Herman O. Lantang dan Rudy Badil, berhasil mencapai Puncak cartenz. Mereka merupakan orang-orang sipil pertama dari Indonesia yang mencapai puncak ini.

PENGERTIAN DAN TUJUAN KEGIATAN MOUNTAINEERING

- Mountain = Gunung

- Mountaineer = Orang yang berkegiatan di gunung

- Mountaineering = Segala sesuatu yang berkaitan dengan gunung atau dalam arti yang luas berarti suatu perjalanan yang meliputi mulai dari hill walking sampai pendakian ke puncak-puncak gunung yang sulit

Banyak alasan orang melakukan kegiatan mountaineering namun pada dasarnya keitan itu dilakukan untuk :

1. Mata pencaharian

2. Adat Istiadat

3. Agama /Kepercayaan

4. Ilmu Pengetahuan

5. Petualangan

6. Olahraga

7. Rekreasi

 TERMONOLOGI GUNUNG

a) Gunung : Suatu puncak ketinggian dari atas permukaan laut dan dataran di sekelilingnya.

b) Pegunungan : Barisan/sekumpulan gunung yang saling berdekatan.

c) Bukit : Gunung Yang ketinggianya tidak lebih dari 600 mdpl

d) Perbukitan : Barisan/sekumpulan bukit yang saling berdekatan.

e) Tebing : Lereng pada dinding gunung yang terjal

f) Sadel : Pertemuan dua titik pada satu punggungan

g) Pass : Celah panjang diantara dua punggungan

h) Col : Celah sempit diantara dua puncak

i) Plateau : Dataran tinggi diatas daerah ketinggian

j) Summit : Puncak

Pada dasarnya Panjat Tebing adalah suatu olahraga yang mengutamakan kelenturan dan kekuatan tubuh, kecerdikan serta keterampilan baik menggunakan Peralatan maupun tidak dalam menyiasati tebing itu sendiri dengan memanfaatkan cacat batuan.

KATEGORI TEBING BERDASARKAN BENTUKNYA

- Face yaitu Permukaan tebing yang berbentuk datar.

- Hang yaitu Bentuk sisi miring pada tebing.

- Roof yaitu relief tebing yang berbentuk seperti teras terbalik.

- Top yaitu puncak Tebing.

PELAKU DALAM PEMANJATAN

Climber yaitu Orang yang melakukan Pemanjatan

- Belayer yaitu orang yang mengamankan pemanjat

MOTTO PANJAT TEBING

- Otak yaitu seorang pemanjat membutuhkan keterampilan khusus dalam penguasan tehnik-tehnik pemanjatan dan peralatan.

- Otot yaitu seorang pemanjat membutuhkan kekuatan khusus dalam pemanjatan dengan ini di butuhkan latihan-latihan seperti latihan fisik, beban dan senam kebugaran panjat tebing.

- Hoki yaitu keberuntungan dalam pemanjatan baik itu keselamatan maupun suksesnya pemanjatan.

ABA-ABA DALAM PEMANJATAN

- On Belay yaitu Aba-aba yang diucapkan oleh seorang pemanjat bahwa ia telah melakukan pemanjatan.

- Belay On yaitu Aba-aba yang diucapkan oleh seorang Belayer bahwa ia telah siap melakukan Pemanjatan.

- Full yaitu Aba-aba yang diucapkan seorang climber kepada Belayer untuk mengencangkan tali pemanjatan.

- Slag yaitu Aba-aba yang diucapkan seorang climber kepada seorang belayer untuk mengendurkan Tali pemanjatan.

SISTEM PEMANJATAN

Alpine Tactics yaitu Sistem Pemanjatan yang ditempuh dengan tujuan mencapai puncak dengan membawa seluruh prlengkapan dan Peralatan pemanjatan biasanya climber bermalam diatas tebing/Flying Camp, tanpa kembali lagi ke shelter induk. Biasanya pada sistem ini seorang climber harus mempunyai kemampuan khusus dalam penguasaan tehnik-tenhik pemanjatan karena resiko pemanjatannya sangat tinggi.Himalayan Tactics yaitu Sistem pemanjatan yang dilakukan setahap demi setahap hingga mencapai puncak tanpa membawa seluruh perlengkapannya dan pemanjat kembali ke shelter induk.

TEHNIK PEMANJATAN

Free Climbing yaitu Tehnik memanjat yang hanya menggunakan keterampilan tangan dan kaki, sedangkan peralatan hanya digunakan untuk mengamankan diri pemanjat itu sendiri bila jatuh dan tidak digunakan untuk menambah ketinggian. Biasanya digunakan pada lomba memanjat. Bouldering yaitu Tehnik pemanjatan yang dilakukan pada tebing-tebing pendek secara rutinitas, biasanya dilakukan untuk melatih kemampuan seorang climber. Soloing yaitu Tehnik pemanjatan yang dilakukan baik tebing pendek ataupun tinggi dengan sendiri tanpa menggunakan peralatan. Aid (Artificial) Climbing yaitu biasanya pada tehnik pemanjatan ini, pemanjat menggunakan secara langsung peralatan untuk menambah ketinggian pemanjatannya. Biasanya digunakan pada pembuatan jalur.

GERAKAN MEMANJAT

Ada beberapa jenis gerakan yang digunakan pada dinding vertikal :

Lay Back yaitu diantara dua tebing yang membentuk sudut tegak lurus, sering dijumpai retakan yang memanjang dari bawah ke atas. Gerakan ke atas untuk kondisi tebing seperti ini adlah dengan mendorong kaki pada tebing dihadapan kita dan menggeser-geserkan tangan pada retakan tersebut keatas secara bergantian pada saat yang sama. Gerakan ini sangat membutuhkan tenaga yang sangat besar.Chimey yaitu bila kita menemui dua tebing berhadapan yang membentuk suatu celah yang cukup besar untuk memasukkan tubuh, cara yang dilakukan adalah dengan menyandarkan tubuh pada tebing yang satu dan menekan atau mendorong kaki dan tangan pada dinding yang lain. Chimey terbagi atas beberapa macam yaitu Wriggling, Backing Up dan Bridging.Wriggling yaitu dilakukan pada celah yang tidak terlalu luas sehingga hanya cukup untuk tubuh saja. Backing Up yaitu dilakukan pada celah yang sangat luas, sehingga badan dapat menyusun dan bergerak lebih bebas. Bridging yaitu dilakukan pada celah yang sangat lebar sehingga hanya dapat dicapai apabila merentangkan kaki dan tangan selebar-lebarnya.Traversing yaitu gaya pemanjatan yang dilakukan ke kiri ataupun ke kanan pada saat melakukan perpindahan gerak jalur pemanjatan. Undercling yaitu dilakukan apabila menghadapi pegangan terbalik, dimana tangan memegangnya secara terbalik dan menarik badan keluar, kemudian kaki naik mendorong badan keluar. Antara dorongan kaki dan tangan saling berlawanan arah sehingga dapat menimbulkan gerakan keatas.Cheval yaitu dilakukan pada batu yang yang biasa disebut punggungan (arete), pemanjat yang menggunakan cara ini mula-mula dudk seperti penunggang kuda pada arete, lalu dengan kedua tangan menekan bidang batu dibawahnya, ia mengangkat atau memindahkan tubuhnya keatas atau kedepan.Slab Climbing yaitu pemanjatan yang dilakukan pada tebing licin yang kondisinya tidak terlalu curam.Mantleshelf yaitu dilakukan apabila menghadapi suatu tonjolan datar (flat) yang luas sehingga dapat menjadi bidang untuk berdiri.

JENIS PIJAKAN

Friction step yaitu cara menempatkan kaki pada permukaan tebing dengan menggunakan bagian bawah sepatu (sol) dan mengandalkan gesekan karet sepatu.

Edging yaitu cara kerja kaki dengan menggunakan sisi luar kaki (sepatu). Normalnya daerah penggunaan edging pada kaki sebelah kiri.

Smearing yaitu tehnik berdiri pada seluruh pijakan di tebing.

Heel Hooking yaitu tehnik yang digunakan untuk mengatasi pijakan-pijakan yang menggantung ataupun sulit dijangkau oleh tangan, Dengan kata lain kaki dapat di gunakan sebagai pengganti tangan.

JENIS PEGANGAN

Open grip yaitu pegangan biasa yang mengandalkan tonjolan pada tebing, biasanya di tonjolan tebing yang agak datar dan lebar.

Cling grip (I) yaitu jenisnya sama dengan di atas namun pegangannya agak sedikit lebih kecil dan mirip dengan mencubit.

Cling grip (II) yaitu jenisnya sama dengan diatas tetapi ditambah dengan menggunakan ibu jari untuk menahan kekuatan tangan.

Vertikal grip yaitu pegangan veritkal yang menggunakan berat badan untuk menariknya kebawah.

Pocket grip yaitu pegangan yang biasa digunakan pada tebing batuan limestone (kapur) yang sering banyak lubang.

Pinch grip yaitu pegangan yang digunakan untuk memegang tonjolan pada tebing, bentuknnya seperti mencubit.

PERALATAN PANJAT TEBING

Tali/Carnmantel berfungsi sebagai pengaman pemanjat apabila terjatuh.

Webbing.

Carabiner

Piton

Runners

Prusik/sling

Harness

Hammer

Tangga

Chock stopper

Chock hexentric

Friend

Tri Cam

Bolt

Jummar

Helm

Sky Hook/Fifi Hook

Chalk bag

Demikian lah mengenai panja tebing...smoga bermanfaat thanks youuu :D

A.    Pengertian verical rescue

Penyelamatan vertikal atau yang lebih dikenal dengan vertical rescue adalah teknik evakuasi (memindahkan ke lokasi yang lebih aman) obyek (baik barang maupun manusia/korban) dari titik rendah ke titik yang lebih tinggi ataupun sebaliknya, pada medan yang curam/vertical baik kering maupun basah. Vertical rescue merupakan salah satu bentuk kegiatan teknis penyelamatan korban yang paling berbahaya. Tingkatan pelatihan, kerjasama tim dan komitmen individu merupakan hal yang terpenting yang diperlukan untuk pemulihan korban yang terjebak dalam lingkungan vertikal. Faktor-faktor utama yang terlibat dalam penyelamatan vertikal :

1.      Bakat dan mobilitas

2.      Pelatihan dan pengalaman

3.      Peralatan memadai

4.      Disiplin dan kerja sama tim

5.      Pendekatan dan taktik

B.     Peralatan Vertical Rescue

Berikut ini peralatan individu yang diperlukan seseorang dalam melakukan vertical rescue :

1.      Safety helmet.

2.      Safety Glasses.

3.      Gloves.

4.      Sepatu.

5.      Pakaian.

6.      Harness.

7.      Whitsel/pluit.

8.      Rescue Rope

9.      Self rescue equipment ascending dan descending.

10.  Kotak pertolongan pertama.

            Selain peralatan individu, terdapat pula jenis peralatan yang digunakan saat proses evakuasi / vertical rescue.

1.      Harness
Harness berfungsi sebagai dudukan/tambatan tubuh, atau alat yang digunakan sebagai pendukung keselamatan saat bekerja/beraktifitas di ketinggian. Secara umum harness dibedakan berdasarkan bentuknya antara lain :

a.       Sit harness

b.      Full body harness

c.       Chest harness (Harness Dada).

2.      Carabiner
Carabiner / cincin kait adalah metal pengunci yang berfungsi sebagai penghubung antar peralatan. Bentuknya oval, delta, atau modified delta, mempunyai per pembuka yang terpasang pada bagian memanjang. Yang direkomendasikan untuk vertical rescue adalah carabiner screw gate.

3.      Mallion rapide

Mallions disebut juga quiklinks atau screwlinks. Ukuran dan bentuk ada beberapa macam (oval,delta dan halfmoon), rate strange mencapai 6000 kg. Mallions diproduksi dari bahan steel dan alloy khusus, cocok untuk berbagai teknik. Delta mallion menguntungkan digunakan beban dari tiga arah, seperti sebagai gantungan tandu.

4.       Descender
Descender adalah alat bantu yang digunakan untuk menuruni medan vertical dan tali sebagai jalur. Adapun jenis descender antara lain :

a.       Figure of eight

b.      Grigri

c.       Autostop

d.      Simple

5.       Ascender.
Ascender adalah alat bantu yang digunakan untuk meniti medan vertical/kemiringan dan tali digunakan sebagai jalur.Sistem kerja alat ini mencengkram pada tali saat terbebani, sehingga dapat menahan beban, dan bergerak saat didorong keatas tanpa terbebani. Kekuatannya terletak pada gerigi yang menahan cengkraman saat kontak dengan tali. Adapun jenis ascender antara lain :

a.       Ascender handle.

b.      Ascender non handle.

6.      Pulley.
Pulley biasa juga di sebut katrol. Alat ini di design untuk menggurangi friksi tali atau pengganti arah kerja tali. Beberapa jenis pulley dibuat khusus untuk pekerjaan di bidang vertical/ketinggian.

7.       Peralatan Tambahan

Peralatan tambahan merupakan peralatan yang digunakan untuk membantu/memudahkan kegiatan Rigging (Lintasan Untuk Vertical Rescue).

a.    Rigger Plate

Rigger plate berfungsi sebagai plat conector/penghubung dari anchor point ke lintasan, karena dalam beberapa kasus dibutuhkan beberapa lintasan dalam satu (1) anchor point fix.

b.    Swivel
Swivel merupakan peralatan tambahan yang berfungsi unuk mencegah terjadinya puntiran pada tali.

8.      Stretcher

Tandu yang digunakan dalam Vertical Rescue

9.      Rope protector.

Kegunaannya memberi perlindungan pada tali dari gesekan benda tajam, seperti gesekan tali dengan sudut tebing, dinding, dll. Beberapa jenis rope protector dibuat untuk penggunaan pada lingkungan/kondisi yang berbeda. Adapun jenis rope protector antara lain :

a.       Padding

b.      Edge Rollers

C.   Teknik Evakuasi Dalam Vertical Rescue

Ada 3 teknik Evakuasi yang dilakukan dalam Vertical Rescue yaitu :

1.      Hauling

Hauling adalah teknik Vertical Rescue Evacuation yang dilakukan dengan cara memindahkan Obyek atau korban dari posisinya ke titik atau tempat yang lebih tinggi. Proses pemindahan ini dilakukan dengan menggunakan System (dikenal dengan nama HAULING SYSTEM) sebagai upaya untuk mengurangi berat obyek/korban saat dilakukan penarikkan ke atas. Obyek/korban dapat dinaikkan dengan atau tanpa menggunakan Stretcher (tandu).

2.      Lowering

Lowering adalah kebalikan dari Hauling. Teknik ini dilakukan dengan cara menurunkan Obyek/Korban ke titik/tempat yang lebih rendah di bawahnya. sama seperti Hauling, dalam teknik Lowering Obyek/korban dapat diturunkan dengan atau tanpa menggunakan Stretcher (tandu).

3.      Suspension

Suspension adalah teknik pemindahan Obyek/Korban dengan cara diseberangkan baik ke titik/tempat yang lebih tinggi, sejajar, maupun lebih rendah dari posisi obyek/korban berada. Teknik ini merupakan alternatif terakhir mengingat penggunaan teknik ini akan memakan waktu cukup lama dan peralatan yang digunakan juga relatif lebih kompleks.

D.    Prnsip Dasar Penggunaan Tandu Dalam Vertical Rescue

Prinsip-prinsip berikut ini harus diamati di semua tandu penyelamatan vertikal operasi:

a.       Pendekatan korban yang harus selalu dilakukan dengan hati-hati, hal ini di satu sisi untuk menghindari berisiko menyebabkan cedera lebih lanjut.

b.      Penyelamatan menggunakan tandu harus dilakukan dengan menggunakan lifting / sistem menurunkan. Penyelamatan dengan metode abseil dari tandu tidak dianjurkan.

c.       Sebisa mungkin, korban harus dilindungi dengan helm dan beberapa bentuk perlindungan mata.

d.      Seorang penyelamat harus mengawal tandu. Orang ini harus dilengkapi sistem pada pendakian rig saat menambatkan tali membentuk bagian dari sistem tali tandu.

e.       Semua komponen dari sistem penyelamatan harus lengkap dengan memperhatikan beban yang harus dipertahankan.

Climb Pemanjat Menginstrusi kepada Pembilay bahwa pemanjat siap memanjat Climbing Pembilay Memberitahukan kepada pemanjat bhw dia siap mengamankan
pemanjat
Belay On
Pembilay Memberitahukan kepada pemanjat bhw dia telah mengamankan pemanjat
On Belay
Pemanjat Menginstrusi kepada pembilay bahwa pemanjat memulai memanjat
Belay Off
Pemanjat Menginstrusi kepada pembilay bahwa dia tidak membutuhkan lagi pengamanan
Off Belay
Pembilay Menginstrusi kepada pemanjat bahwa dia tidak mengamankan lagi
Full
Pemanjat Menginstrusi kepada pembilay agar tali dikencangkan
Slack
Pemanjat Menginstrusi kepada pembilay agar tali dikendorkan
Rock
Pemanjat Memberitahukan kepada orang yang berada dibawah bahwa ada batuan tebing yang jatuhTopPemanjat Memberitahukan bahwa dia telah sampai pada puncak

 

Kamis, 20 Juli 2017

Rafter atau penggiat arungjeram, tak bisa lepas dari bahaya walaupun di kondisikan memakai perahurafting yang boleh dikatakan aman untuk pengarungan sungai. Bagaimana jika tiba – tiba kita tercebur di air deras saat perahurafting kita berada di tengah sungai? Ini juga perlu di ketahui oleh para penggila arungjeram. Jadikan anda rafteryang mengetahuiteknik berenang di arus deras.

Berenang Menuju Eddies ( pusaran air )
Bila seorang rafter terjatuh dari perahu dan masuk kedalam sebuah jeram, maka yang paling baik dan tidak membahayakan adalah melakukan sebuah aggressive swimming menuju kesebuah eddies. Sebuah eddies yang cukup besar bisa digunakan untuk beristirahat. Hal ini berlaku juga bagi rafter yang akan melakukan scouting ( melihat lintasan sungai ) terhadap jeram – jeram berikutnya dihilir sungai ( downstream ).

Untuk memasuki sebuah eddies, hal pertama yang harus dilakukan adalah memperhatikan situasi di sekitar jeram. Perhatikan batu – batu yang muncul kepermukaan, strainer ( hambatan yang merintangi sungai : cabang pohon, dll ),sweeper ( pohon yang jatuh kedalam air ),pillow ( arus sungai menabrak batu membentuk riak gelombang air ) danstanding wave ( bentukan ombak berdiri yang tinggi ). Hal ini harus menjadi perhatian utama, karena dalam kondisi batu – batu atau banyaknya hambatan dan aliran air yang sangat kuat, tidak mungkin bagi kita untuk melakukanactive swimming ( berenang secara aktif ) dengan efektif menuju eddies.

Berenang Memegang Dayung
Ketika terjatuh dari perahu, sebaiknya dayung yang kita pergunakan jangan sampai terlepas jauh, karena berenang sambil memegang dayung apabila mengetahui tekhniknya sangat membantu.

Pada saat berenang di jeram, perhatikan situasi disekitar kita. Cara memegag dayung sama dengan seperti saat kita mendayung. Tangan yang satu memegang T-grip dan yang lainnya memegang tangkai. Saat situasi memungkinkan, segera gerakan dayung dengan blade ( bilah dayung ) terlebih dahulu kayuh dari belakang ke depan untuk mengarahkan tubuh kita. Bila tidak memungkinkan Balikan tubuh dari posisi terlentang ( defensive swimming ) menjadi terlungkap, lakukan gerakan mendayung secara lurus searah dengan badan dari atas kepala sampai dada, kearah tujuan kita.

Perhatikan kecepatan aliran air, karena hal tersebut dapat menghambat upaya kita untuk menepi, baik keperahu atau menuju eddies. Kecepatan gerakan mengayuh dayung untuk menolak tubuh harus lebih cepat dari kecepatan aliran air, sehingga kita akan segera menepi. Pada saat melakukan penolakan, perhatikan juga posisi tubuh kita, karena ketika dayungdikayuh akan menghasilkan tenaga yang memungkinkan badan kita berputar, sehingga upaya untuk menepi akan sia – sia.

Berenang Di Wave
Berenang di wave ( ombak sungai ) adalah hal yang menyenangkan. Tetapi harus diingat bahwa wave tidak selamanya dalam keadaan menyenangkan. Panjang wave biasanya terbatas sekitar 100 m, bentuknya cenderung tidak kontinyu dan tidak stabil. Hal ini disebabkan karena struktur sungai yang membentuknya, sehingga pada sebuah sungai mungkin hanya ada beberapa wave dengan panjang hanya beberapa meter. Pada saat berenang pada wave yang tinggi ( standing wave ) akan lebih mudah dan aman dengan melakukan gerakan menyelam ke bagian bawah ombak yang tinggi tersebut, sebelum terlebih dahulu mengambil nafas. Setelah muncul kepermukaan orientasi situasi dan lakukan defensive swimming kembali.

Pada kondisi tertentu, berenang di wave harus ekstra hati – hati dan siaga, karena medan yang dilalui akan mengalami perubahan yang drastis. Mungkin dari kondisi wave yang menyenangkan akan dilanjutkan pada hole yang besar atau pillow yang dangkal.

Berenang Di Hole
Suatu kondisi tertentu mungkin kita akan berenang di hole, hole adalah bentukan arus yang tertahan rintangan ( batu ) menyebabkan arus putar seperti roda dengan arus permukaan mengarah kehulu dan bagian bawah mengarah ke hilir.

Jika tidak mengetahui tekniknya, kita dapat terus tertahan oleh arus balik dan berputar – putar di hole, hal ini sangat berbahaya. Cara berenang supaya dapat keluar dari hole adalah ketika sebelum masuk hole merubah posisi berenang kita dengan melakukan gerakan cannon ball. Peluk kedua dengkul, tundukan kepala, buat badan seperti bola. Dengan posisi tubuh seperti ini kemungkinan tubuh terkena hambatan arus akan sedikit, biasanya akan relatif lebih mudah terlepas dari hole. Jika sudah terjebak, berenang sekuatnya ke arah kiri atau kanan memanfaatkan arus kuat menuju hilir.

Ada dua jenis hole dimana jalan keluarnya adalah harus berenang mengikuti arus balik yang menabrak arus kuat ke hilir. Pada saat itu tubuh kita akan terbawa ke dalam air dan terdorong beberapa meter keluar dari hole. Hal tersebut terjadi karena air yang jatuh dari dam memiliki kekuatan yang besar umtuk mendorong apa saja yang ada di bawahnya. Tetapi jangan sampai terjebak ke dalam backwash ( arus balik yang menggulung ), karena untuk melepaskan diri dari dalam backwash sangat sulit.

Berenang Di Undercut
Terjepit di undercut ( lorong / celah batu / tebing yang berongga tertutup air ) adalah mimpi buruk bagi para rafter. Cara terbaik untuk keluar dari undercut adalah dengan berenang sekuat tenaga untuk menjauh dan keluar, biasanya 45 derajat melawan ke arah kiri atau kanan tergantung dimana posisi undercut.

Jika sudah terlalu dekat, balikkan badan pada posisi terlentang, kemudian angkat kaki tinggi – tinggi, jauhkan tubuh dari dinding batu, dengan menekan kaki ke dinding dengan mengarahkan tubuh 45 derajat keluar. Jika tidak berhasil dan setengah badan kita sudah tersedot, biasanya bagian kaki gunakan tangan untuk menahan supaya badan kita tetap berada di luar atau jika ada pegangan yang kokoh segera bertahan untuk menunggu pertolongan dari rekan yang lain.

Apabila seluruh badan sudah masuk ke dalam undercut, segera peluk kedua lutut, kemudian tunggu beberapa detik dan jangan melawan dengan harapan badan kita tetap di arus utama dan terseret keluar. Jangan menutup mata supaya kita tahu saat berada di dalam undercut yang gelap. Apabila badan kita terjepit atau berputar – putar didalam undercut, usahakan tetap tenang.

Jika badan kita terjepit, pelajari keadaan, coba untuk melepaskan diri, cari tempat berpijak, tolak sekuatnya dan berenang ke arah luar. Hal utama yang perlu diperhatikan adalah tidak panik dan mempertahankan kesadaran. Setelah dapat keluar cari eddies terdekat dan berenang masuk kedalamnya. Setelah berhasil mengamankan diri, kalau masih sanggup langsung bersiap untuk menolong rekan lain atau menyelamatkan barang – barang yang hanyut terbawa air.

Berenang Di Sweepers Dan Strainers
Beberapa rintangan yang harus diwaspadai oleh para rafter adalah rintangan pohon yang jatuh ke dalam air (sweeper ) dan sebuah rintangan yang menghambat diatas permukaan air ( strainer ) yang di dalamnya terdapat sebuah hole atau dam yang berbahaya. Bila kita terjebak di dalam sweeper dan stainer ini, kita akan menemukan kesulitan untuk melepaskan diri dari rintangan tersebut karena badan tertahan rintangan dan terdorong arus sungai.

Cara Melepaskan Diri Dari Sweeper Atau Stainer

Bila kita akan menghadapi sweeper ataustainer, cobalah untuk berenang menghindar skuat tenaga. Saat benturan atau tabrakan dengan stainer atau sweeper tidak terelakan, berputarlah dengan poros perut dengan muka menghadap ke arahdownstream dan usahakan tubuh tetap berada di permukaan air. Pusatkan perhatian untuk mendekati batang pohon atau mulut goa, buat gerakan dengan kaki terlebih dahulu dan tarik tubuh kita keatasnya dengan bagian kepala terlebih dahulu menggunakan pegangan yang dapat kita temukan di sekitar kita. Bila hal tersebut tidak dapat dilakukan di atas sebuah batang pohon / sweeper, cobalah bertahan sampai ada yang menyelamatkan kita.

Bila kita benar – benar harus melewati di bawah sweeper tersebut, hal pertama yang harus kita lakukan adalah rasakan rintangan – rintangan yang ada dengan kaki atau tangan. Berenang di bawah stainer atau sweeper merupakan usaha terakhir untuk melepaskan diri dari rintangan – rintangan tersebut.



Sumber : raftingarungjeram.com

Total Pengunjung

Pengunjung Aktip


Arsip Video

Loading...
Harga estimasi Website
• Rp 17.246.085 •
Diberdayakan oleh Blogger.

Pelayanan surVive GIEZAG

Silahkan rubah warna latar Web Kami sesuai keinginan Anda
MASUK ►►Wellcome to Sure my Live General Intelegency Zap Action Generation (SURVIVE GIEZAG) ~~ Extreme Adventure Service Team~~ Absolut Human Being ~~ Future Imagination Virtual Reality~~Team Penelusur tradisi, keindahan serta keunikan alam & kegiatan extreme

Demo Bagian Terbang Layang

Demo Bagian Terbang Layang

Demo Bagian Panjat Tebing

Demo Bagian Selancar

Testimonial

Makasih ya. Seru banget
Tina - Jakarta

Pantai Madasari indah, unik
Irgi - Medan

Outbond & Fun games nya Seru
Anis - Bandung

Thanks kang Sandi antar kami ke puncak Gn.Ciremai
David - Jakarta

Pantai Karapyak Pangandaran enjoy, seru banget
Shela - Bandung

Santirah Pangandaran SERU....
Sinta - Garut

Camping Ipukan Enjoy banget
Vina - Jakarta

Kampung Badud & Jembatan pelangi Pangandaran Unik
Indra - Tasikmalaya

Jojogan / Wonderhill Pangandaran punya Mantap
Pupung - Magelang

Pepedan Hill Indah & Mantap
Deni - Sumedang

Pantai Batuhiu mantap...
Shella - Semarang

Haturnuhun Kang Ali Gn.Salamet seru lho
Nadia - Bandung

Puas deh adventure disini,thanks lo!
Anita - Bandung

Mind managementnya mantap!
Tiara - Bandung

Gn.Semeru mantap, Thanks gan!
Matius Sinaga - Lampung

Gn.Ciremai seru banget
Ridwan - Bekasi

Pokonya seru, Amazing gmana?!
Susi - Cimahi

Thanks Gn.Ciremai mantap
Rian - Surabaya

Thanks!Green canyon Amazing
William - Singapore

TRIms Team surVive atas panduan wisata Kabupaten Pangandaran
Jacky - Depok

Haturnuhun kang Arief, Citumang seru!
Risna - Garut

TRIms surVive GIEZAG telah menemani kami ke Gn.Semeru. Salam lestari!
Tapak Adventure Club - Bandung Barat

Thanks!
Michael - Sydney

Thanks Bodyrafting Green canyon, extreme, enjoy dan seru
Santoso - Kudus

Seru banget Pantai Batukaras!
Sudrajat - Kuningan

Kriteria Anda sukai dari surVive GIEZAG

Adventure Herbal Tradisi Kuliner Wisata

Terpopuler Minggu ini

INFUT DATA BOOKING
Masukan pilihan Anda sesuai keinginan
Di Data Base BOOKING surVive GIEZAG
KONFIRMASI KODE INVOICE
Invoice
ID Reg
Masukan kode konfirmasi yang telah Kami kirim kepada animasi-bergerak-surat-0284 Anda.

[Tutup]