30 detik pertama: panik dan refleks menahan napas.
Begitu kepala berada di bawah air, tubuh secara refleks menahan napas. Awalnya mungkin masih berpikir untuk berenang atau mencari permukaan. Tetapi semakin lama, kadar CO₂ meningkat dan muncul dorongan bernapas yang semakin kuat. Dada terasa sesak dan tubuh mulai panik.
30-60 detik: mulai tersedak dan kehabisan tenaga.
Dorongan untuk mengambil napas menjadi sangat kuat. Ketika seseorang tidak lagi mampu menahan napas, air dapat masuk ke saluran napas dan memicu batuk, tersedak, dan rasa seperti tidak mendapatkan udara. Pada saat yang sama, gerakan berenang menjadi semakin tidak terkoordinasi.
±1 menit: otak mulai kekurangan oksigen.
Oksigen dalam darah terus turun. Fokus dan koordinasi memburuk. Orang tersebut dapat mulai bingung, lemah, kehilangan orientasi, dan semakin sulit mempertahankan dirinya di permukaan. Penelitian fisiologi memperkirakan bahwa orang yang tenggelam dan terus berjuang dapat kehilangan kesadaran rata-rata sekitar 75 detik, tetapi variasinya besar.
±1-2 menit: kehilangan kesadaran.
Ketika hipoksia semakin berat, fungsi otak mulai gagal. Kesadaran dapat hilang dan napas menjadi tidak teratur atau berhenti. Literatur klinis menyebutkan bahwa banyak korban kehilangan kesadaran dalam sekitar 2 menit, meskipun waktunya sangat bervariasi.
Beberapa menit berikutnya: kerusakan otak semakin mungkin terjadi.
Jika tidak ada pertolongan dan kekurangan oksigen terus berlangsung, henti napas dan kemudian henti jantung dapat terjadi.
Yang sering tidak disadari: orang yang tenggelam tidak selalu terlihat seperti sedang berteriak atau mengayunkan tangan dengan keras. Drowning sering berlangsung cepat dan diam, orang yang sedang berjuang bernapas bisa bahkan tidak mampu berteriak meminta pertolongan.








